Tampilkan postingan dengan label Malaikat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Malaikat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Desember 2016

Para Malaikat yang Memikul Singgasana Allah

‘Arasy adalah tempat yang paling tinggi dan lebih luas dan besar dari sesuatu bangunan apapun yang pernah ada. Seakan ingin menegaskan pernyataan di atas, Imam al-Qusyairi menyatakan bahwa ada salah satu hadits yang menceritakan bahwa seorang malaikat bertanya kepada Allah untuk diperkenankan melihat ‘Arasy. Ternyata keinginan itu diperkenankan. Maka untuk mendukung keingintahuan sang malaikat, Allah memberinya tiga puluh sayap. Dengan sejumlah sayap yang diberikan itu akhirnya sang malaikat terbang dengan jarak tempuh selama tiga puluh ribu tahun lamanya.
Setelah itu Allah bertanya kepada malaikat tersebut: “Sudahkah engkau melihat ‘Arasy?” Malaikat itu menjawab, “Aku belum mencapai sepersepuluh dari jarak tempuh menuju ‘Arasy.” Karena itu, sadar dengan jauh dan lebarnya ‘Arasy, maka ia pun meminta izin untuk kembali ke tempatnya.

Ats-Tsa’labi pernah menyatakan kabar yang ia peroleh dari Ja’far, yang juga diperoleh dari Muhamad, sedangkan Muhammad mendapatkannya dari ayahnya. Dan sang ayah pun memperoleh informasi tersebut dari neneknya. Sang nenek berkata bahwa ‘Arasy merupakan sumber inspirasi dari segala benda yang ada di bumi. Semua yang ada di dunia, sumber inspirasinya berasal dari ‘Arasy. Hal ini sebagaimana firman Allah yang menyatakan: “Tiada sesuatu melainkan dari Kami khazanahnya.”
Ali bin Al-Husain pernah menyatakan bahwa ‘Arasy diciptakan dari bermacam-macam cahaya, namun berbeda dengan cahaya yang kita saksikan selama di dunia. Karena seperti disebutkan di atas, bahwa ‘Arasy merupakan sumber segala inspirasi apapun yang ada di dunia. Demikian pula hal ini berlaku pada warna-warna yang ada. Warna hijau di ‘Arasy menjadi sumber dari warna hijau yang ada di dunia. Kuning sebagai sumber dari seluruh warna kuning, merah juga menjadi sumber dari seluruh warna merah. Sedangkan warna putih di ‘Arasy menjadi sumber dari cahaya siang hari. Dan dari warna ini kemudian dijadikan tujuh puluh juta lapis. Dari sekian lapis warna yang ada, semuanya melakukan tasbih, tahmid, dan mensucikan nama-nama Allah dengan berbagai macam suara.

Sebagai salah seorang ulama terkenal dalam hal tafsir, Imam Qurthubi mengatakan bahwa ‘Arasy itu berbentuk tahta yang dipikul oleh para malaikat. Dengan demikian, bangunan ini memang diciptakan oleh Allah dengan mendapatkan dukungan dari para malaikat yang bertugas antara lain memikul, beribadah dengan memuliakan, dan berthawaf di sekelilingnya. Kondisi ini sama dengan bangunan suci di bumi yang bernama Baitullah. Allah bahkan memerintahkan kepada segenap manusia untuk melakukan ibadah thawaf (mengelilingi Baitullah) dengan tanpa ditentukan waktunya. Ibadah ini dapat dilakukan setiap saat dan bernilai pahala. Bangunan ini menjadi sentral peribadatan umat Islam. Ibadah shalat yang dikerjakan seluruh umat Muslim kapanpun dan dimanapun harus
menghadap ke arahnya. Inilah bentuk kemuliaan Baitullah. Dan ketika di akhirat, perlakuan serupa akan diberikan penduduk akhirat kepada ‘Arasy.
Dalam sebuah ayat Al-Qur’an, Allah menggambarkan dengan sangat jelas bagaimana kondisi di ‘Arasy tersebut sebagai berikut:
Mereka (para malaikat) pemikul ‘Arasy dan yang berada di sekitarnya menyuarakan pujian kepada Tuhannya, beriman kepada-Nya, dan memintakan ampunan bagi orang-orang yang beriman, ‘Oh Tuhan kami, begitu luasnya rahmat dan ilmu-Mu, meliputi segala-galanya. Karena itu berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan-Mu, peliharalah mereka dari siksa api neraka yang menyala-nyala.
Wahai Tuhan kami, masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn, yang Engkau janjikan kepada mereka, dan orang-orang shaleh di antara bapak, istri, dan anak keturunan mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa dan Bijaksana. Peliharalah mereka dari perbuatan-perbuatan jahat. Sebab orang-orang yang Engkau pelihara dari perbuatan jahat itulah yang telah memperoleh rahmat-Mu pada hari kiamat. Itulah suatu keberuntungan yang paling besar.” (Qs. Al-Mu’min: 7-9)
Dalam sebuah riwayat pernah dikemukakan bahwa Ali radiyallahu 'anhu mengemukakan bahwa pemangku (pendukung) ‘Arasy ada empat malaikat. Tiap malaikat memiliki empat wajah. Landasan tapak kaki mereka berada di bawah bumi ketujuh, yang kalau diukur dengan waktu di dunia sejauh perjalanan lima ratus tahun.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Pada keterangan berbeda dikemukakan bahwasanya Abdullah bin Abbas radiyallahu 'anhu pernah menyatakan bahwa setelah Allah menciptakan ‘Arasy, lalu Allah memerintahkan para malaikat untuk memikulnya. Namun kendati demikian, mereka merasa bahwa beban yang dipikulnya sangatlah berat. Ketika itu diberikanlah amalan bacaan berupa kalimat subhaanallaah. Ternyata dengan membaca kalimat ini, beban yang awalnya sulit untuk dipikul ternyata menjadi lebih ringan. Maka bacaan itu senantiasa dibaca secara terus-menerus hingga sampai terciptanya Adam. Ketika ruh Adam dimasukkan, dan beliau membaca alhamdulillah, lalu dijawab oleh Allah dengan yarhamukallaah. Mendengar itu, para malaikat yang bertugas mendukung ‘Arasy mengemukakan bahwa kalimat yang telah ada merupakan kalimat mulia. Oleh karenanya kalimat-kalimat itu tidak pernah ditinggalkan untuk selalu dibaca dalam tugas mereka. Maka sejak itu mereka mengucapkan Subhaanallaah walhamdulillaah. Keajaiban dari rangkaian kalimat ini ternyata mampu memberikan keringanan terhadap beban yang mereka pikul.
Dan ketika Allah mengutus Nabi Nuh, beliau merupakan nabi pertama yang diutus untuk menyerukan kaumnya agar membaca Laa ilaaha illallaah. Rupanya kalimat ini tidak semata-mata didengar serta menjadi rangkaian do’a dari kaum Nuh. Malaikat yang bertugas memikul beban ‘Arasy rupanya berkeinginan menggabungkannya menjadi satu rangkaian kalimat untuk selalu dibaca. Para malaikat ini mengemukakan bahwa kalimat yang diajarkan Nabi Nuh merupakan kalimat ketiga yang harus disambungkan dengan kalimat-kalimat sebelumnya.
Karena itu mereka kemudian senantiasa mengucapkan Subhaanallaah walhamdulillaahi walaa ilaaha illallaah. Rangkaian kalimat ini menjadi bacaan resmi mereka hingga diutusnya Nabi ibrahim untuk menyembelih putranya. Waktu itu nabi Ibrahim menyaksikan malaikat membawa seekor domba untuk disembelih sebagai pengganti dari putranya dengan mengucapkan Allaahu Akbar. Mendengar ucapan itu, para malaikat pendukung ‘Arasy ada ide untuk merangkaikan tambahan kalimat itu menjadi sebuah keutuhan bacaannya. Mereka mengatakan bahwa ini merupakan kalimat keempat yang patut disambungkan dengan kalimat yang telah diucapkan sebelumnya. Lalu setelah para malaikat pendukung ‘Arasy itu menyambungkannya, maka jadilah kalimat itu Subhaanallaah walhamdulillaahi walaa ilaaha illallaahu Allaahu Akbar.
Sewaktu malaikat Jibril menceritakan hal itu kepada Nabi Muhammad pada perjalanan Isra’ dan Mi’raj, beliau merasa takjub. Dengan spontan, Rasulullah mengucapkan kalimat Laa haula walaa quwata illaa billahil ‘aliyyil ‘azhiim. Mendengar ucapan Rasulullah itu, malaikat Jibril pada akhirnya juga memiliki ide untuk merangkaikannya dengan kalimat-kalimat para malaikat yang telah lama dibaca menjadi sebuah rangkaian yang utuh dan kemudian diinformasikan kepada para malaikat pendukung ‘Arasy. (Dalam kitab Tanbihul Ghafilin)
Dalam sebuah hadits, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala telah menciptakan sebuah tiang di sisi ‘Arasy. Dan ketika ada seorang hamba yang mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallaah muhammad rasulullaah, berguncanglah tiang itu. Lalu Allah berfirman, “Wahai tiang, diamlah!” Mendengar perintah Allah ini, maka tiang tersebut menjawab, “Bagaimana aku bisa tenang kembali sedangkan Engkau belum mengampuni dosa pembacanya?” Lalu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Aku telah mengampuni dosanya.” Setelah itu barulah tiang penyangga itu dapat tenang seperti semula. (Dalam kitab Zubdatul Wa’idin)
Malaikat di Sudut ‘Arasy

Dalam keterangan yang telah disampaikan dalam berbagai sumber, telah dijelaskan bahwa tugas dan keberadaan malaikat adalah di langit dan bumi. Namun khusus untuk sudut ‘Arasy, Allah telah menciptakan malaikat khusus. Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
Ketika aku melakukan Isra’ Mi’raj ke langit, aku telah melihat ‘Arasy terdiri dari tiga ratus enam puluh sudut. Jarak antara sudut yang satu dengan yang lainnya adalah sejauh perjalanan tiga ratus ribu tahun. Di bawah tiap-tiap sudut terdapat dua belas ribu padang pasir. Luas tiap padang pasir adalah seluas masyriq dan maghrib. Di masing-masing padang pasir terdapat delapan puluh ribu malaikat pembaca surat Al-Ikhlash yang pahalanya dihibahkan kepada orang-orang yang membacanya dari umat Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam, baik laki-laki maupun perempuan.
Mendengar cerita ini, para Sahabat merasa heran. Lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, ‘Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya bahwa “qul huwallaahu ahad” tertulis di sayap malaikat Jibril, ayat “allaahush shamad” tertulis di sayap malaikat Mikail, dan ayat “lam yalid walam yuulad” tertulis di sayap malaikat ‘Izrail. Sedangkan “walam yakullahu kufuwan ahad” tertulis di sayap malaikat Israfil alaihissalam.
Maka barangsiapa dari umatku yang membaca surat al-Ikhlash maka diberi oleh Allah pahala seperti membaca kitab Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur’an.
Kemudian Rasulullah bersabda lagi, ‘Wahai Sahabatku, apakah kalian merasa heran?’ Mereka menjawab, ‘Betul ya Rasulullah.’
Beliau shalallahu ‘alaihi wassalam meneruskan sabdanya, ‘Sesungguhnya “qul huwallaahu ahad” itu tertulis di tempurung kepala Abu Bakar Ash-Shiddiq, “allaahush shamad” tertulis di tempurung kepala Umar Al-Faruq, “lam yalid walam yuulad” tertulis di tempurung kepala Utsman Dzin Nuraini, sedangkan “walam yakullahu kufuwan ahad” tertulis di tempurung kepala Ali As-Sakhiyyi.
Maka barangsiapa yang membacanya akan diberikan pahala sama seperti yang telah dianugrahkan kepada Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali radhiyallahu anhum ajma’iin. (Dalam kitab Hayatul Quluub).
 
Referensi: Saifulloh dan Abu Shofia (2003). Menyingkap Tabir Alam Malaikat. Surabaya: Karya Agung 

Malaikat yang Senantiasa Bertasbih

 

Berikut ini adalah bacaan tasbih yang mempunyai pahala luar biasa. Sebelumnya, akan diterangkan dalam artikel ini tentang tugas dari para malaikat yang membaca tasbih. Hal ini penting untuk kita ketahui sebagai bahan renungan kepada kita semua betapa agungnya tugas makhluk Allah yang satu ini. Apa yang disajikan dalam artikel berikut ini adalah berdasarkan keterangan dari kitab Zubdatul Wa’idin. Semoga hal ini menjadikan kita semakin beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dan semoga hal ini akan membuat kita semakin semangat untuk senantiasa bertasbih kepada Allah, karena sungguh pahala yang didapatkan dari bertasbih sangat luar biasa ganjarannya di sisi Allah. Oleh karenanya sangat rugi bagi siapa saja yang tidak melakukan amalan berikut ini.
Dan mudah-mudahan para pembaca mau membagikan artikel ini kepada kolega, sanak famili, dan para kerabat, agar mereka juga mengamalkan bacaan tasbih berikut ini. Hal ini dikarenakan seperti yang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam sabdakan bahwa barangsiapa yang mengajak seseorang untuk berbuat suatu kebaikan lalu dia melakukannya, maka pahala kebaikan yang dilakukan orang tersebut akan mengalir kepada orang yang mengajaknya berbuat kebaikan, tanpa mengurangi pahala dari orang yang berbuat kebaikan tersebut. 
 
Malaikat Yang Senantiasa Bertasbih


Langit yang berada di atas kepala kita ini terdiri dari berbagai tingkatan-tingkatan. Dalam sebuah hadits sahih diungkapkan bahwa langit ini terdiri dari tujuh tingkatan. Di setiap langit ada malaikat-malaikat yang senantiasa beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan membaca tasbih, bersujud, rukuk, mengangungkan Allah, dan sebagainya. Keterangan yang memperkuat sekaligus membenarkan terhadap keberadaan malaiakt yang memiliki tugas semata-mata untuk membaca tasbih adalah sebagaimana yang diceritakan dalam kisah Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam.
Ketika malam Isra’ Mi’raj, Rasulullah menyaksikan sebuah lautan yang luasnya tidak ada yang mengetahuinya selain Allah subhanahu wa ta’ala. Di tepi laut itu, tedapat malaikat berbentuk burung. Malaikat ini mempunyai tujuh puluh sayap. Ketika ada seorang hamba Allah yang membaca “Subhaanallaah”, maka burung itu akan bergerak dan beranjak dari tempatnya.
Jika diteruskan dengan membaca Alhamdulillaah, maka sayapnya akan dibentangkan sedemikian rupa. Dan kalau hamba tersebut melanjutkan lagi dengan membaca Laa ilaaha illallaah, maka sang malaikat yang berbentuk burung itu akan terbang.
Dan kalau sang hamba meneruskan lagi bacaannya hingga sampai ke kalimat Allaahu Akbar, maka sang burung akan terjun ke dalam lautan. Dan apabila hamba tersebut terus melanjutkan bacaannya sampai kalimat laa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhiim, maka sang burung akan keluar dari kedalaman laut, lalu mengibas-ngibaskan (menggerak-gerakkan) sayapnya sehingga meneteskan air sejumlah tidak kurang dari tujuh puluh ribu tetesan air pada setiap sayapnya. Dan dari masing-masing tetes air itu, maka Allah akan menciptakan seorang malaikat yang memiliki tugas hanya untuk bertasbih, bertahlil, dan beristighfar untuk pembacanya hingga datangnya hari kiamat (Hal ini terdapat dalam kitab Zubdatul Wa’idin).
 
 Referensi: Saifulloh dan Abu Shofia (2003). Menyingkap Tabir Alam Malaikat. Surabaya: Karya Agung 

Malaikat Israfil: Sang Peniup Sangkakala

Sebagaimana diceritakan dalam kitab Daqaiqul Akhbar karangan Syekh Abdurrahman, beliau menyatakan bahwa ada empat malaikat yang memiliki kemuliaan khusus. Para malaikat tersebut adalah Israfil, Mikail, Jibril, dan Izrail alaihissalam.
Tugas mereka adalah memegang dan mengatur segala urusan makhluk. Jibril alaihissalam bertugas menyampaikan wahyu dan mengangkat para utusan. Sedangkan tugas malaikat Mikail adalah menurunkan hujan dan mengatur rezeki. Untuk Izrail tugasnya adalah mencabut nyawa, sedangkan Israfil bertugas untuk meniup sangkakala (terompet) sebagai pertanda dimulainya hari kiamat.
Ibnu Abbas radiyallahu anhu berkata: “Sesungguhnya malaikat Israfil pernah memohon kepada Allah, agar dikaruniai kekuatan yang dapat membawa tujuh langit dan tujuh bumi. Kemudian Allah memberikan kekuatan tersebut kepadanya. Lalu Israfil memohon lagi agar dikaruniai kekuatan untuk bisa menguasai angin. Kemudian Allah pun mengabulkan permohonannya. Lalu ia memohon lagi agar diberi kekuatan untuk bisa mengangkat gunung dan diberikanlah kekuatan itu kepadanya oleh Allah subhanahu wa ta’ala, serta kekuatan yang diberikan kepada jin dan manusia. Kemudian ia memohon lagi agar memiliki kemampuan untuk bisa menguasai seluruh binatang buas, lalu permohonan tersebut dikabulkan.”
Sebagaimana yang dijelaskan dalam berbagai sumber bahwa bentuk dari malaikat Israfil adalah dilapisi bulu mulai dari kepala hingga kedua telapak kakinya. Ia mempunyai banyak mulut dan lidah yang tertutup di dalam beberapa dinding. Setiap lisan yang dimilikinya senantiasa bertasbih menggunakan seribu bahasa. Demikian juga, malaikat Israfil mempunyai seribu malaikat yang menjadi tentaranya, yang berasal dari dirinya sendiri. Para malaikat tersebut adalah malaikat Muqarrabin (yang dekat) dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Begitu pula malaikat yang bertugas sebagai penanggung / pemikul ‘Arasy diciptakan oleh Allah dengan rupa yang mirip dengan malaikat Israfil. Demikian juga malaikat yang bertugas sebagai pencatat yang berada disana.
Jumlah sayap malaikat Israfil ada empat buah. Sayap pertama panjangnya sampai ke arah barat, yang kedua sampai ke arah timur, yang ketiga menutupi tubuhnya, sedangkan yang keempat menutupi kepalanya. Warna dari wajahnya adalah kuning tua.
Sebuah keterangan ringkas menerangkan bahwa sebab wajahnya berwarna seperti itu adalah karena getaran rasa takut kepada Allah, yang selalu mengiringinya setiap saat. Setiap saat dia mengarahkan pandangannya ke arah ‘Arasy, karena semata-mata menunggu perintah dari Allah.
Salah satu dari tiang ‘Arasy berada di atas bahunya. Setiap Allah memutuskan di Lauhil Mahfuzh maka dinding yang menghalanginya terbuka, sehingga segala keputusan yang Allah tetapkan bisa dilihat oleh Israfil. Memang menurut riwayat, bahwa Lauhil Mahfuzh itu bergantung di bawah ‘Arasy, sedangkan malaikat Israfil merupakan satu-satunya malaikat yang paling dekat dengan ‘Arasy tersebut.
Disebutkan, bahwa jarak antara malaikat Israfil dengan ‘Arasy dihalangi tujuh dinding. Sedangkan setiap dinding tebalnya adalah sekitar perjalanan lima ratus tahun. Adapun jarak antara malaikat Israfil dengan malaikat Jibril, kira-kira tujuh puluh dinding. Jadi, jarak antara malaikat Jibril dengan ‘Arasy adalah tujuh puluh tujuh lapis dinding.
Disebutkan, bahwa malaikat Israfil senantiasa meletakkan mulutnya sehingga senantiasa siap meniup terompetnya yang berbentuk seperti tanduk apabila mendapat perintah dari Allah subhanahu wa ta’ala. Disebutkan pula, bahwa terompetnya bercabang empat. Dua di antaranya bercabang ke arah barat dan timur, sedangkan yang satu lagi bercabang ke arah bumi dan yang satu lagi bercabang ke arah atas yaitu kepada langit ketujuh. Adapun lingkaran kepala terompet itu sama dengan lebar langit dan bumi. Di dalamnya terdapat pintu sebanyak bilangan ruh. Sedangkan di dalamnya lagi ada tujuh puluh rumah. Tiap-tiap rumah ditempati para ruh. Di antara para ruh yang ada yakni ruh para nabi yang menempati satu rumah, ruh para jin juga satu rumah, para setan, binatang, dan sebagainya, sampai tujuh puluh macam.
Abu Hurairah pernah bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam tentang terompet / sangkakalanya, kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab, “Sangkakala itu adalah sebuah tanduk raksasa yang terdiri dari cahaya. Besar tiap lingkaran dalam tanduk itu selebar langit dan bumi. Sangkakala itu akan ditiupnya sebanyak tiga kali.
Tiupan pertama membuat makhluk ketakutan, tiupan kedua membuat makhluk mati, dan tiupan ketiga membangkitkan makhluk dari kubur (kematiannya).”
 
Referensi: Saifulloh dan Abu Shofia (2003). Menyingkap Tabir Alam Malaikat. Surabaya: Karya Agung

Senin, 12 Desember 2016

Malaikat Munkar dan Nakir dan Pertanyaan dalam Kubur

 

Malaikat Munkar dan Nakir adalah dua di antara sepuluh malaikat yang wajib diketahui dan diimani keberadaannya. Tugas keduanya adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada para mayit yang baru saja dikubur.
Diriwayatkan dalam sebuah hadits, tatkala mayat diletakkan dalam kubur, maka datanglah dua malaikat dengan menggunakan pakaian serba hitam. Kedua matanya melotot / pandangannya menakutkan, suaranya seperti guntur yang menyambar. Tampak pula kedua taringnya seolah mampu menggali bumi. Lalu keduanya datang kepada mayat di sekitar kepalanya... sampai akhir hadits.
Dalam hadits yang lain disebutkan pula bahwa mata keduanya sepert belanga yang terbuat dari tembaga dan taringnya laksana tanduk sapi, sedangkan suaranya tidak ubahnya halilintar.

Keterangan lain pernah meriwayatkan, bahwa malaikat Munkar dan Nakir bisa menggali dan menginjak hanya dengan menggunakan rambut yang mereka miliki. Di samping itu masing-masing dari mereka juga membawa sebuah tongkat (gada) besi yang memiliki bobot sangat berat. Bahkan diilustrasikan seandainya seluruh jama’ah haji yang berada di Mina diminta untuk mengangkat tongkat yang dimiliki kedua malaikat ini, niscaya tidak akan mampu.
Di hadits yang lain juga disebutkan bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda “...Jika gunung-gunung itu dipikul dengan gada itu, niscaya hancur menjadi tanah...”
Pertanyaan Kubur

Setelah sendirian berada dalam kubur, maka dalam berbagai keterangan hadits disebutkan bahwa mayat yang ditinggalkan oleh para pengantar kemudian hidup kembali bahkan mendengar dengan jelas suara alas kaki dari para pengantarnya. Dan babak baru dari perjalanan manusia yang amat panjang pun akhirnya dimulai.
Ketika dalam kesendirian itulah maka sayup-sayup suara para pengantar hilang ditelan kejauhan, dan datanglah dua malaikat memecah kesunyian kubur. Kedua malaikat yaitu Munkar dan Nakir kemudian memberi beberapa pertanyaan sebagai berikut: ”Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Dan siapa nabimu? Jika sang mayat termasuk kalangan mukmin, maka ia akan menjawab, “Allah adalah Tuhanku, Islam adalah agamaku, dan nabiku adalah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam.”
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam melanjutkan, “Lalu Munkar dan Nakir menghardik orang mukmin itu dengan hardikan yang keras. Dan itulah fitnah terbesar yang didatangkan kepada setiap mayit.”
Sebelum malaikat Munkar dan Nakir datang menjumpai para mayat di dalam kubur, terlebih dahulu mayat itu didatangi oleh malaikat bernama Rumman. Bentuk dari wajah malaikat ini adalah bercahaya bagaikan matahari. Lalu ia duduk dan berkata kepada mayat: “Tulislah semua yang pernah engkau lakukan selama di dunia baik itu pekerjaan baik, maupun kejahatan.”
Lalu si mayat berkata: “Dengan apa aku menulis. Mana alat tulis yang dapat aku pakai, darimana mendapatkan tinta dan dimana pula tempat tintanya?” Maka malaikat itu berkata: “Gunakan air liurmu sebagai tinta, sedangkan jarimu sebagai pena.”
Lalu mayat itu berkata, “Apa yang akan kutulis, sedangkan aku tidak memiliki buku?” Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam meneruskan sabdanya, “Lalu malaikat itu memotong sebagian dari kafan si mayat lantas memberikannya sebagai buku pencatat amal.” Kemudian malaikat Rumman berkata, “Inilah bukumu, sekarang tulislah.” Kemudian si mayat menulis seluruh perbuatan yang pernah dilakukannya dengan diawali dari perbuatan baik. Saat menulis serta mencatat amal yang baik ini, maka ia melakukannya dengan lancar dan senang hati. Namun ketika sampai giliran pda penulisan perbuatan jelek yang pernah dilakukannya, ia merasa enggan dan malu. Karena perasaan tersebut, maka sesekali ia berhenti menulisnya.
Saat menyaksikan sang mayit idak lagi seceria kala penulisan amal pertama, maka malaikat Rumman yang ditugaskan itu berkata: “Hai orang yang bersalah, mengapa kamu tidak malu kepada Allah yang menciptakan dirimu waktu kamu mengerjakan berbagai amal kejelekan tersebut kala di dunia? Padahal hari ini kamu malu kepadaku.” Dengan serta merta sang
malaikat mengambil gada dan dipukulkannya kepada mayat tersebut.
Maka si mayat itu berkata: “Bebaskan aku, sehingga aku menulisnya.” Lalu si mayat menulis seluruh perbuatan jeleknya. Kemudian si mayat diperintahkan untuk menggulung, dan menyetempel. Setelah digulung, si mayat berkata: “Dengan apa aku mengecapnya, padahal aku tak memiliki alat untuk itu?” Maka malaikat Rumman kemudian berkata: “Stempelah dengan kukumu.” Dan setelah selesai, lalu dikalungkannya seluruh catatan itu pada si mayat sampai hari kiamat. Sesudah itu masuklah malaikat Munkar dan Nakir ke dalam kur si mayat tersebut.
 
 Referensi: Saifulloh dan Abu Shofia (2003). Menyingkap Tabir Alam Malaikat. Surabaya: Karya Agung 

Cara Malaikat 'Izrail Mencabut Nyawa Manusia

 

Kematian adalah suatu hal yang pasti akan terjadi pada semua makhluk hidup, bahkan para malaikat pun akan dicabut nyawanya oleh Allah kelak. Dengan demikian, satu-satunya yang kekal dan tidak pernah mati adalah Allah subhanahu wa ta’ala. Mengenai kematian itu sendiri, tidak ada yang mengetahui kapan ajal seseorang akan tiba. Hal ini menjadi rahasia Allah subhanahu wa ta’ala.
Dikisahkan bahwa pada suatu ketika Malaikat ‘Izrail pernah bertanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala: “Wahai Tuhanku, kapankah aku mencabut nyawa seorang hamba? Dalam keadaan apa dan bagaimana aku menghilangkannya?” Allah berfirman: “Wahai malaikat ‘Izrail, ini adalah ilmu yang paling rahasia. Siapapun tidak akan mengerti selain Aku. Akan tetapi Aku memberitahukan kepadamu mengenai kedatangan waktunya dari kematian tersebut.”

Disebutkan, bahwa jika seorang hamba sudah waktunya meninggal dunia, maka ada beberapa malaikat yang datang kepada ‘Izrail. Malaikat penjaga jiwa berkata: “Sudah habis masa hidup orang ini.” Selanjutnya datang juga malaikat penjaga rezeki dan amal sambil berkata: “Rezeki dan amalnya telah habis.” 
 

Disebutkan, bahwa malaikat Mikail turun dengan membawa lembaran kepada malaikat ‘Izrail yang didapatkan dari Allah. Dalam lembaran itu tertulis nama orang yang diperintah untuk dicabut nyawanya, tempat pencabutan, dan sebab-sebab pencabutan nyawanya.
Sedang Ka’bil Akhbar menerangkan: “Bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan pohon di bawah ‘Arasy. Jumlah pohon tersebut sama dengan bilangan makhluk yang ada di dunia. Maka ketika ajal seseorang telah tiba, dan umurnya tinggal 40 hari, maka secara otomatis daun pohon ‘Arasy itu juga gugur, dan jatuh di tempat malaikat ‘Izrail. Dengan demikian maka ‘Izrail dapat mengetahui bahwasanya ia diperintahkan untuk mencabut nyawa seseorang sesuai dengan identitas daun tersebut. Dan setelah itu para malaikat menyebut orang yang akan dicabut nyawanya tersebut sebagai “mayat hidup.” Ha ini karena orang tersebut masih dapat merasakan kehidupan dunia selama empat puluh hari lagi.”
Disebutkan, Abu Laits mengemukakan bahwa akan turun dari bawah ‘Arasy dua tetesan yang akan menggambarkan nama pemiliknya. Bila satu tetesan itu berwarna hijau, maka pertanda bahwa pemiliknya termasuk orang yang celaka. Tetapi jika tetesan tersebut berwarna putih, maka hal itu menandakan bahwa pemiliknya termasuk orang beruntung / bahagia.
Sedangkan untuk mengetahui dimanakah tempat seseorang akan meninggal di akhir hayatnya, maka Allah memerintahkan malaikat untuk memasukkan ke dalam air mani yang berada di rahim ibunya dengan mencampur debu bumi dari tempat dimana nantinya ia akan meninggal. Maka debu tersebut akan terus berputar-putar untuk mencari tempat yang dikehendaki. Kendati demikian, orang yang bersangkutan akan meninggal sesuai dengan tempat asal dimana debu itu diambil. Lebih lanjut mengenai kematian, Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an:
Katakanlah (Muhammad), ‘Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang ditakdirkan akan mati terbunuh di medan pertempuran itu, keluar juga ke tempat mereka menghadang kematian.” (Qs. Ali Imran: 154).
 
Referensi: Saifulloh dan Abu Shofia (2003). Menyingkap Tabir Alam Malaikat. Surabaya: Karya Agung
 - www.lampuislam.org

Malaikat Ridhwan


 
Ridhwaan adalah nama malaikat yang ditugaskan oleh Allah untuk menjaga  pintu surga. Sebenarnya, di dalam Al-Qur'an sendiri tidak ada keterangan yang jelas yang menerangkan bahwa malaikat penjaga pintu gerbang surga adalah Ridhwan. Begitu pula jika kita meneliti hadits-hadits sahih, tidak ada yang menyebutkan namanya dengan jelas. Terkadang namanya diucapkan sebagai "Rizvan" oleh orang Persia, Urdu, Pashto, Tajik, Punjabi, Kashmir dan bahasa lainnya yang terpengaruh oleh bahasa Persia. Sedangkan orang Prancis menyebutnya sebagai "Redouane." [1]
Sekarang nama ini digunakan sebagai nama maskulin oleh orang Arab atau orang yang beragama Islam. Malaikat Ridwan biasanya dikaitkan bersama dengan malaikat Malik. Hal ini dikarenakan malaikat Ridwan adalah penjaga pintu surga sementara malaikat Malik adalah penjaga pintu neraka. Jika kita melakukan kajian terhadap kitab-kitab hadits, ada beberapa yang menjelaskan tentang nama dari malaikat ini, akan tetapi hadits-hadits yang ada adalah hadits dhaif sehingga tidak bisa dipercaya. Berikut ini adalah hadits-hadits yang menjelaskan tentang malaikat ini:
“...dan penjaga surga adalah seorang malaikat yang bernama Ridhwan sebagaimana datang dengan jelas di dalam beberapa hadist.” [2]
“Tidak ada seorang muslim pun yang membaca Yasin sedang dia berada dalam sakaratul maut, maka tidaklah Malaikat Maut mencabut nyawanya sampai Ridwan penjaga surga memberinya minuman.” [3]
“Allah Azza wa Jalla berfirman, “Wahai Ridwan, bukalah pintu-pintu surga.” [4]
“Lalu saya berkata (di dalam surga), “Wahai Ridwan, punya siapa istana ini?” [5]
 
“Rabbul Izzah Tabaraka wa Taala memanggil Ridhwan dan dia adalah penjaga surga.” [6]
Al Waahidy  juga telah mengomentari hadist mengenai malaikat ini secara panjang lebar di dalam kitabnya yang berjudul Asbaabun Nuzuul. [7] Dengan demikian isnad (periwayat) hadits ini sangat lemah, bahkan sebagian ulama memasukkan hadist ini dalam kitab Al-Maudhuu’aat (hadits-hadits palsu), seperti Abul Hasan Ali bin Muhammad bin ‘Iraaq al-Kinaani dalam kitabnya Tanziihu Asy-Syarii’ah Al-Marfuu’ah ‘anil Akhbaar Asy-Syanii’ah Al-Maudhuu’ah (1/339).
Tugas Malaikat Ridhwan

Malaikat Ridwan, mempunyai tugas sebagai menjaga surga dengan penampilan yang sangat indah sehingga menyenangkan hati para penghuni surga. Malaikat Ridhwan akan menyambut kedatangan para penghuni surga ketika mereka baru memasuki surga dengan penuh keramah-tamahan dan kehangatan. Kemudian dia akan membukakan pintu gerbang
surga untuk mereka.
Wujud Malaikat
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Wujud para malaikat telah dijabarkan di dalam Al Qur'an ada yang memiliki sayap sebanyak 2, 3 dan 4, sebagaimana dalam surat Faathir 35:1 yang berbunyi:
Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Qs. Faathir 35:1)
Lebih jauh, di dalam beberapa hadits disebutkan bahwa sayap malaikat Jibril adalah 600 sayap, Israfil memiliki 1200 sayap, dimana satu sayapnya menyamai 600 sayap Jibril dan para malaikat Hamalat al-'Arsy memiliki 2.400 sayap dimana satu sayapnya menyamai 1.200 sayap Israfil. Sebagai manusia biasa, kita tidak bisa melihat wujud malaikat dengan mata kita. Hal ini dikarenakan mata manusia tercipta dari tanah liat yang diberi bentuk oleh Allah subhanahu wa ta'ala sehingga kita tidak akan bisa melihat wujud asli dari malaikat yang sejatinya tercipta dari cahaya. Namun apabila kita menelaah hadits-hadits yang ada, kita akan menemukan bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam pernah melihat wujud asli malaikat Jibril.
Sifat-sifat lain yang dimiliki para malaikat adalah mereka tidak akan bertambah tua maupun bertambah muda, keadaan mereka sekarang sama  persis seperti ketika mereka diciptakan. Allah menciptakan malaikat dengan tugas-tugas tertentu seperti mengatur pemagian rezeki, mengatur pembagian air hujan, berdzikir kepada Allah, dan tugas-tugas lainnya. Dengan sayap yang mereka miliki, maka mereka dapat terbang secepat kilat dan bahkan lebih cepat dari itu. Mereka tidak berjenis kelamin dan tidak berkeluarga. Mereka juga tidak pernah merasakan lapar atau dahaga sehingga mereka tidak butuh makan atau minum.
 
 
Sumber: academia.edu
Referensi: www.lampuislam.org 
 
[1] Excerpts from 'The Angels' by Sachiko Murata
[2] Al-Bidayah wa An-Nihayah 1/53, Ibnu Katsir.
[3] Ubay bin Ka’ab diriwayatkan oleh Al-Qadhai dalam Musnad Asy-Syihab (1036) dari jalan Mukhallad bin Abdil Wahid dari Ali bin Zaid bin Jud’an dan Atha` bin Abi Maimunah dari Zirr bin Hubaisy dari Ubay secara marfu’. Di dalam sanadnya ada Ali bin Zaid bin Jud’an yang sudah masyhur sebagai rawi yang lemah. Ditambah lagi dengan adanya Mukhallad bin Abdil Wahid, yang Ibnu Hibban berkata tentangnya dalam Al-Majruhin (1096), “Mungkarul hadits jiddan (orang yang sangat mungkar haditsnya).”
[4] Hadits Abdullah bin Abbas diriwayatkan oleh Abu Asy-Syaikh dalam kitab Ats-Tsawab dan Al-Baihaqi dalam Syuab Al-Iman tentang kisah berhiasnya surga setiap memasuki ramadhan. Hadits ini datang dari jalan Adh-Dhahhak dari Ibnu Abbas secara marfu’. Haditsnya lemah karena Adh-Dhahhak tidak mendengar dari Ibnu Abbas.
[5] Hadits Abdullah bin Abi Aufa. As-Suyuthi menyatakan dalam Al-Jami’ Al-Kabir sebagaimana dalam Kunzul Ummal, “Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan Ibnu Asakir dari Abdullah bin Abi Aufa, sedang di dalam sanadnya ada Abdurrahman bin Muhammad Al-Maharibi dan Ammar bin Saif, keduanya sering meriwayatkan hadits-hadits yang mungkar.” Lihat Mizan Al-I’tidal (2/585) dan (3/165).
[6] Hadits Anas bin Malik diriwayatkan oleh Al-Uqaili dalam Adh-Dhuafa (1/313) dari jalan Hamzah bin Washil Al-Minqari dari Qatadah dari Anas secara marfu’, Al-Uqaili berkata setelahnya, “Hamzah bin Washil Al-Minqari, seorang dari Bashrah, majhul dalam periwayatan dan haditsnya tidak terjaga.”
[7]  Asbaabun Nuzuul, hal:332,Surat Al-Furqaan.
 

Jumat, 09 Desember 2016

Kisah Malaikat 'Izrail Masuk Ke Dalam Rumah Nabi Sulaiman

Ada sebuah kisah bahwasanya malaikat maut (malaikat 'Izrail) pernah menampakkan dirinya dengan menyamar menjadi seorang manusia. Diriwayatkan bahwa pada suatu hari malaikat maut (malaikat 'Izrail) datang ke rumah Nabi Sulaiman. Kebetulan saat itu ada seorang pemuda yang sedang bercakap-cakap dengan Nabi Sulaiman di rumahnya. Begitu masuk ke dalam rumah tersebut, tiba-tiba pandangan malaikat maut (malaikat 'Izrail) menatap tajam pada seorang pemuda yang berada di sebelah beliau. Merasa dipandangi dengan tatapan tajam seperti itu, maka hati pemuda itu pun menjadi berdebar-debar dan merasa ketakutan. Pemuda itu merasa sangat tidak nyaman dengan kehadiran sang malaikat maut. Saat itu dia merasakan tubuh dan hatinya dipenuhi rasa takut.

Setelah beberapa lama, malaikat maut (malaikat 'Izrail) pun pergi meninggalkan Nabi Sulaiman dan pemuda tersebut. Pada saat malaikat maut telah pergi, pemuda ini bertanya kepada Nabi Sulaiman, “Ya Nabi Sulaiman alaihissalam, siapakah orang tadi?” Nabi Sulaiman menjawab, “Itu adalah malaikat maut yang sedang menyamar menjadi manusia.” Pemuda tersebut berkata, “Sungguh aku tidak nyaman dengan pandangannya yang terus-menerus menatapku. Aku menjadi takut jangan-jangan dia ingin mencabut nyawaku. Ya Nabi Sulaiman, sebagai seorang nabi yang diberi kekuatan oleh Allah untuk menguasai angin, bisakah kau menyuruh angin untuk menerbangkanku ke negeri Cina? Semoga dia tidak bisa mengejarku ke negeri Cina.” Nabi Sulaiman berkata, “Apabila memang sudah waktumu untuk meninggal, bukankah kau tidak bisa lolos dari kematian?” “Ya, tetapi aku ingin mencobanya. Wahai nabi Sulaiman, aku mohon kepada engkau agar menyuruh angin untuk membawaku ke negeri Cina”, katanya.
Setelah memohon kepada nabi Sulaiman, akhirnya beliau bersedia untuk mengabulkan permohonan pemuda tadi. Dengan mukjizat dari Allah yang diberikan kepada Nabi Sulaiman sehingga bisa memerintahkan angin, maka disuruhnya angin untuk membawa pemuda tersebut sesuai dengan keinginannya, yaitu ke negeri Cina. Akhirnya sampailah pemuda itu ke negeri Cina.
Tidak beberapa lama setelahnya, malaikat maut datang lagi kepada Nabi Sulaiman. Pada saat itu Nabi Sulaiman bertanya perihal mengapa malaikat maut memandangi pemuda itu dengan pandangan yang tajam. Maka malaikat maut menjawab, “Sesungguhnya aku diperintahkan oleh Allah untuk mencabut nyawa pemuda itu pada saat yang telah ditentukan (hari itu) di negeri Cina. Aku memandanginya karena keheranan, mengapa Allah menyuruhku untuk mencabut nyawanya di negeri Cina sementara aku melihatnya sedang berada di dekatmu?” Maka malaikat maut melanjutkan, “Ternyata pahamlah aku, karena tidak lama setelah aku pergi, tiba-tiba angin membawanya ke negeri Cina. Dan aku telah mencabut nyawanya hari itu di Cina.”
Sungguh, kisah ini benar-benar memberikan pelajaran pada kita bahwa tidak ada yang dapat lolos dari jeratan maut. Apabila waktu seseorang telah habis, maka pasti maut akan mendatangi orang tersebut dimanapun dia berada, bahkan jika dia berlindung dibalik benteng yang paling kokoh sekalipun. Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari kisah ini, dan senantiasa bersiap-siap untuk menghadapi kematian yang bisa datang kapan saja dan dimana saja. 

Referensi: Saifulloh dan Abu Shofia (2003). Menyingkap Tabir Alam Malaikat. Surabaya: Karya Agung 

Malaikat 'Izrail Sang Pencabut Nyawa

 

Malaikat ‘Izrail alaihissalam diciptakan oleh Allah dalam bentuk yang memiliki kemiripan dengan malaikat Mikail alaihissalam baik dari segi wajah, sayap, besar, maupun kekuatannya (mengenai rupa malaikat Mikail. Nyaris tidak ada yang berbeda dari kedua makhluk ini. Keberadaan malaikat ‘Izrail terselubung dengan rahasia yang dibentengi Allah. Benteng tersebut besarnya melebihi ukuran langit dan bumi. Menurut berbagai sumber dikatakan apabila seluruh air laut dan sungai yang ada di dunia disiramkan ke atas kepala malaikat ‘Izrail, maka tidak setetes pun yang akan jatuh ke bumi. Ia diberi kemampuan yang luar biasa oleh Allah, sehingga arah barat dan timur bisa dijangkau oleh kedua tangannya. Kalau dilukiskan, hal ini sebagaimana keadaan seorang yang berada di hadapan sebuah meja makan yang penuh dengan berbagai makanan dan siap untuk disantap.

  

Selain itu, malaikat ‘Izrail memiliki kemampuan bisa membolak-balikkan dunia, sebagaimana kemampuan seseorang membolak-balikkan uang koin. Malaikat ‘Izrail selain dibentengi dengan beberapa lapis rahasia Tuhan, juga telah diikat dengan banyak rantai. Dikisahkan bahwa panjang antara satu rantai dengan yang lainnya seperti panjang perjalanan yang memerlukan jarak tempuh selama seribu tahun. Karena tempatnya yang teramat rahasia tersebut, maka tidak satu malaikat pun yang bisa mendekati serta mengetahui tempat dan apa saja yang dilakukannya. Demikian juga tentang suara yang dimiliki, tidak ada satu pun malaikat yang bisa mendengarkan, baik secara jelas maupun samar-samar.
Disebutkan bahwa ketika Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan al-maut dan menyerahkannya kepada ‘Izrail, maka ia berkata: “Wahai Tuhanku, apakah al-maut itu?” Maka Allah menyingkap rahasia al-maut tersebut dan memerintahkan agar seluruh malaikat menyaksikannya. Setelah seluruh malaikat mengetahui, tersungkurlah semuanya dalam keadaan pingsan selama seribu tahun.
Setelah para malaikat sudah sadar kembali, bertanyalah mereka: “Ya Tuhan kami, adakah makhluk yang lebih besar dari ini?” Dan Allah pun berfirman, “Akulah yang menciptakannya, dan Akulah yang lebih agung dibandingkannya. Seluruh makhluk akan merasakan al-maut itu.”
Kemudian Allah berfirman: “Hai ‘Izrail, ambillah al-maut itu, dan Aku telah menyerahkannya kepadamu.” Mendengar itu ‘Izrail berkata: “Ya Tuhanku, apakah dayaku untuk mengambilnya sementara ia lebih agung dari aku?” Kemudian Allah memberinya kekuatan sehingga al-maut itu pun ada dalam genggamannya.
Setelah itu al-maut berkata: “Ya Tuhanku, izinkanlah aku untuk berseru (menjerit) di dalam langit sekali saja.” Maka setelah diizinkan, berserulah ia dengan suara yang amat keras: “Aku ini adalah al-maut, tugasku sebagai pemisah orang yang saling mencintai. Aku adalah al-maut, tugasku memisahkan antara anak dan ibunya. Aku adalah al-maut, memiliki tugas memisahkan saudara laki-laki dan perempuan. Aku adalah al-maut, tugasku menghancurkan bangunan rumah dan gedung-gedung. Aku adalah al-maut, tugasku meramaikan kuburan. Aku adalah al-maut, tugasku mencari dan mendatangi kamu semuanya, walaupun kamu berada dalam lapisan benteng yang amat kuat. Dan tidak satu pun makhluk yang tidak merasakan kepedihanku.”
Demikianlah gambaran mengenai malaikat ‘Izrail dan kekuatan yang dimilikinya. Semoga ketika malaikat ‘Izrail menjemput kita kelak, kita dalam keadaan siap dengan amal-amal baik yang dimiliki sehingga meninggal dalam keadaan khusnul khatimah dan mendapat rahmat dan perlindungan dari Allah. Aamiin ya robbal alamin.
 
Referensi:  Referensi: Saifulloh dan Abu Shofia (2003). Menyingkap Tabir Alam Malaikat. Surabaya: Karya Agung