Rabu, 07 Desember 2016

Kisah Malaikat Jibril Bertemu dengan Nabi Muhammad

 

Jibril ‘alaihissalam merupakan malaikat yang ditugaskan oleh Allah untuk menyampaikan wahyu kepada para nabi. Seluruh ajaran agama yang wajib diketahui nabi-nabi untuk disampaikan kepada umatnya, bila tidak disampaikan secara langsung oleh Allah, maka akan diturunkan lewat malaikat Jibril.
Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam sendiri menerima wahyu pertamanya lewat kabar dari Malaikat Jibril. Dalam berbagai keterangan, kala itu dalam suatu malam, Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam sedang berkhalwat (menyendiri) di gua Hira. Hal ini sudah menjadi kebiasaan beliau kala itu untuk menghilangkan berbagai kegundahan hatinya karena menyaksikan banyak penyimpangan yang dilakukan kaumnya seperti membunuh bayi-bayi perempuan, menyembah berhala, perang antar suku, dan sebagainya.

Tanpa diduga sebelumnya, datanglah Malaikat Jibril alaihissalam seraya berkata, “Bergembiralah hai Muhammad, aku adalah Jibril dan engkau adalah utusan Allah untuk umat ini.” Setelah itu Jibril alaihissalam memerintahkan Nabi Muhammad untuk membaca. Betapa terkejutnya perasaan beliau karena beliau tidak bisa membaca maupun menulis. Karena itu, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab, “Aku tidak bisa membaca.”
Belum selesai perasaan bingung nabi Muhammad, kemudian malaikat Jibril membekapnya dengan selimut yang biasa dipakainya untuk tidur, sehingga terasa sesak sekali. Berkali-kali malaikat Jibril melakukan hal itu seraya memerintahkan Nabi Muhammad untuk membaca. Tapi karena memang Nabi Muhammad benar-benar tidak dapat membaca, maka jawabannya tetap saja, “Aku tidak dapat membaca.”
Kejadian ini berlangsung sampai tiga kali, sehingga akhirnya malaikat Jibril menyampaikan wahyu pertama kepada Nabi Muhammad yang menyatakannya sebagai nabi. Bunyi wahyu itu adalah:
Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan (makhluk). Yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu itu Maha Pemurah. Yang mengajarkan tulis menulis dengan pena. Mengajar manusia apa-apa yang tidak diketahuinya.” (Qs. Al-Alaq: 1-5)
Jadi, tugas malaikat Jibril adalah untuk menyampaikan wahyu tersebut kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam. Selanjutnya, dengan metode berangsur-angsur, Jibril mengirimkan pesan dari Allah subhanahu wa ta’ala kepada Rasulullah.

Sesudah wahyu pertama, agak lama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam tidak menerima wahyu. Padahal ketika itu beliau sangat membutuhkannya. Keberadaan wahyu merupakan hal mendesak untuk memberikan dorongan kepada Nabi Muhammad ketika melihat kondisi kaumnya yang sangat terbelakang. Karenanya, acapkali Rasulullah berangkat ke
tempat sunyi, misalnya di atas gunung, hanya untuk dapat bertemu malaikat Jibril dan mendengarkan wahyu dari Allah subhanahu wa ta’ala.
Pernah suatu ketika Rasulullah berjalan-jalan, dan secara tidak sengaja terdengar ada suara dari langit. Begitu beliau menengadahkan wajahnya ke atas, ternyata yang tampak adalah malaikat Jibril alaihissalam. Ini merupakan kedua kalinya malaikat Jibril menampakkan dirinya di hadapan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam. Kala itu tampak Jibril duduk di antara langit dan bumi. Antara percaya dan tidak, maka beliau cepat-cepat pulang ke rumah dan minta diselimuti kepada sang istri, Khadijah radiyallahu anha. Ketika itu pulalah, Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan wahyu untuk kedua kalinya, yaitu:
Hai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu berilah peringatan! Agungkanlah Tuhanmu. Bersihkanlah pakaianmu. Tinggalkan perbuatan dosa. Janganlah memberi karena ingin memperoleh balasan yang lebih banyak. Dan bersabarlah terhadap segala tantangan untuk memenuhi perintah Tuhanmu.” (Qs. Al-Muddatstsir: 1-7)
Setelah turunnya wahyu kedua itu, selama kurang lebih 22 tahun, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam dalam berbagai kesempatan menerima wahyu dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sedangkan puncak dari wahyu yang diterimanya adalah:
Pada hari ini Aku (Allah) telah menyempurnakan agama untukmu semua, dan Aku telah mencukupkan kenikmatan-Ku kepadamu semua dan Aku telah rela/ridha bahwa Islam itu sebagai agamamu semua.” (Qs. Al-Maidah: 3)
Di samping datang mengunjungi Rasulullah untuk menyampaikan wahyu, malaikat Jibril juga pernah datang dengan wujud yang berbeda kepada para Sahabat. Kejadian tersebut sebagaimana diceritakan oleh Sahabat Umar ibn Khaththab radiyallahu anhu dalam Sahih Muslim:
Suatu hari ketika kami duduk di dekat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, maka sekonyong-konyong nampaklah kepada kami seorang laki-laki yang memakai pakaian sangat putih dan berambut hitam. Tak terlihat padanya bekas (tanda-tanda) perjalanan dan tak seorang pun di antara kami yang mengenalnya, sehingga ia duduk di hadapan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam lalu disandarkan lututnya pada lutut Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dan meletakkan tangannya di atas pangkuan Rasulullah kemudian berkata, “Hai Muhammad, terangkanlah padaku tentang Islam.” Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab, “Islam yaitu hendaklah engkau bersaksi bahwasanya Muhammad itu utusan-Nya. Hendaklah engkau mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan hendaklah engkau mengerjakan haji ke Baitullah (Makkah) jika sudah kuasa menjalankannya.”
Orang asing tersebut kemudian mengatakan, “Engkau benar.” Maka kami heran, ia yang bertanya namun ia juga yang membenarkannya.
Maka orang itu bertanya lagi, “Terangkanlah kepadaku tentang iman.” Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Hendaklah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, terhadap utusan-utusan-Nya, hari kiamat, dan beriman pula kepada takdir baik dan buruk.” Orang itu berkata, “Engkau benar.” Maka orang itu berkata lagi, “Terangkan kepadaku tentang ihsan.”
Jawab Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, “Hendaklah engkau beribadah (mengabdi) kepada Allah, seakan-akan engkau melihat-Nya sekalipun engkau tak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Ia melihat engkau.”
Kembali orang tadi bertanya, “Beritahukan padaku tentang hari kiamat.” Maka Rasulullah menjawab, “Orang yang ditanya tidak lebih mengetahui dari yang bertanya.” Orang itu selanjutnya bertanya lagi, “Terangkanlah padaku tentang tanda-tandanya”, maka Rasulullah pun menjawab, “Di antaranya, jika seorang hamba (budak) telah melahirkan tuan (majikan)nya. Dan jika engkau melihat orang yang tadinya miskin, berbaju compang-camping, sebagai penggembala kambing, sudah berubah menjadi orang yang mampu hingga berlomba-lomba dalam membangun bangunan yang megah.”
Kemudian orang itu pergi. Setelah aku diam sejenak, kemudian Rasulullah bersabda, “Wahai Umar, tahukah engkau siapakah yang bertanya tadi?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Dia itu adalah Jibril, dia datang untuk menerangkan agama.” (H.R. Muslim)
Dalam berbagai keterangan diceritakan bahwa nama lain dari malaikat ini adalah Ruhul Amin atau Ruhul Qudus.
Referensi: Saifulloh dan Abu Shofia (2003). Menyingkap Tabir Alam Malaikat. Surabaya: Karya Agung
- www.lampuislam.org 

Selasa, 06 Desember 2016

4 Hal yang dibenci Malaikat

 

Malaikat adalah salah satu makhluk Allah yang terbuat dari cahaya. Malaikat diciptakan oleh Allah untuk selalu menaati perintah-Nya. Dan ternyata, para malaikat juga mempunyai membenci beberapa hal. Dalam artikel kali ini, kita akan membahas apa saja hal-hal yang dibenci oleh para malaikat.

1. Melaknat Para Wanita yang Menolak Keinginan Suaminya

Di antara orang-orang yang dilaknat malaikat adalah wanita yang menolak keinginan suaminya, sehingga membuat hati sang suami jengkel. Hal ini sebagaimana tertera dalam hadits Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam dalam kitab sahih Bukhari dan Muslim:
Jika suami mengajak istrinya untuk tidur bersama, sedangkan sang istri menolak, lalu pada malam itu suaminya menjadi jengkel hatinya kepada istrinya, maka para malaikat melaknat (mengutuk) istrinya hingga pagi hari.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

2. Menjauhi Orang Junub


Di dalam hadits disebutkan bahwa para malaikat tidak mau mendekat kepada orang yang junub dan orang yang berlumuran kesumba harum.
Seperti yang diketahui, banyak sekali ibadah yang tidak diperkenankan kepada orang-orang yang memiliki hadas besar. Di antaranya adalah shalat, memegang Al-Qur’an, membaca Al-Qur'an dan lain-lain, adalah di antara ibadah yang tidak diperkenankan untuk dilakukan oleh mereka yang memiliki hadas besar. Dalam pandangan agama, mereka yang junub sama halnya dengan raga yang kotor. Karenanya, sangat dilarang melakukan ibadah tertentu.
Dan malaikat sebagai makhluk Allah subhanahu wa ta’ala yang bersih dan terjamin serta senantiasa suci, tentunya akan senang bertemu dan dekat dengan yang suci pula. Karena itu, orang yang sedang memiliki hadas besar tidak dikehendaki oleh para malaikat. Maka dari itu, bila seseorang dalam keadaan junub, dianjurkan untuk cepat-cepat membersihkan diri.
Ketidaksenangan malaikat kepada orang yang sedang ‘kotor’ itu sebagaimana diterangkan dalam hadits berikut ini: “Dari Ibnu Abbas: Sesungguhnya malaikat itu tidak mendekat pada orang yang junub atau yang berlumuran dengan kesumba harum, hingga orang tersebut mandi.”
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Para malaikat senantiasa berdo’a untuk seseorang, selama ia masih berada di tempat shalat, (dan) selama masih belum berhadas.”
Ketika malaikat-malaikat itu dekat dan bersanding dengan manusia, mereka tidak semata-mata berdiam diri. Di antara kebersamaan dengan manusia yang suci itu, mereka senantiasa berdo’a kepada Allah. Do’a itu senantiasa dikumandangkan agar manusia yang berada di dekatnya selalu mendapatkan ampunan dan belas kasihan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Bunyi do’a yang disampaikan para malaikat kepada Allah adalah, “Ya Allah, ampunilah baginya, ya Allah, kasihanilah dia.(H.R. Bukhari)
Karenanya, mempertahankan posisi dan keadaan diri yang suci dari hadas kecil, terlebih lagi hadas besar adalah sebuah kesempatan yang menguntungkan. Apalagi di negeri kita banyak sekali tempat dan alat untuk bersuci. Karenanya, kondisi suci ini semoga menjadi sebuah pilihan bagi keseharian kita.
Keuntungan yang dapat kita petik dari keadaan diri yang senantiasa bersih, di samping dekat dan dido’akan para malaikat, juga akan memberikan kekuatan untuk kita agar tidak melakukan kemaksiatan di jalan, seperti melihat lawan jenis yang bukan mahram kita, berbicara jelek dengan menggunjing sesama, menceritaan kejelekan orang lain, dan kegiatan buruk lainnya. Dengan kondisi dalam keadaan berwudhu’, maka manusia akan tergerak hatinya untuk melakukan hal-hal yang baik. 

3. Tidak Mau Masuk Ke Rumah yang di Dalamnya Ada Gambar atau Patung


Seperti yang kita ketahui bahwa banyak sekali rumah-rumah di zaman sekarang yang memajang lukisan-lukisan dari makhluk-makhluk yang bernyawa. Padahal hal ini jelas sekali dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Bahkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda bahwa orang-orang yang paling pedih azabnya pada hari kiamat adalah para pemahat dan para pelukis yang melukis makhluk-makhluk yang bernyawa.
Oleh karenanya, malaikat pun enggan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat patung atau lukisan makhluk yang bernyawa. Hal ini dikarenakan sebagaimana Allah tidak menyukainya, demikian juga malaikat tidak menyukainya. 

4. Tidak Mau Masuk Ke Rumah yang Terdapat Anjing


Pada suatu ketika malaikat Jibril telah berjanji kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bahwa dirinya akan menemui beliau shalallahu ‘alaihi wassalam. Namun ternyata malaikat Jibril tidak kunjung datang. Kemudian Rasulullah menaruh tongkat yang ada di tangannya dan berkata, “Allah dan utusannya (Jibril) tidak pernah mengingkari janji.” Ternyata, di bawah tempat tidur ada seekor anak anjing. Lalu berkatalah beliau shalallahu ‘alaihi wassalam kepada Aisyah radiyallahu anhu (istri beliau), “Aisyah, sejak kapan anjing ini masuk kesini?” Lalu Aisyah pun menjawab, “Demi Allah, aku tidak tahu.” Kemudian Nabi Muhammad menggiring anjing itu keluar. Lalu malaikat Jibril pun datang ke rumah beliau tidak lama setelah itu. Kemudian Nabi Muhammad berkata kepada Jibril, “Kau telah berjanji kepadaku dan aku menunggumu, tapi engkau tidak juga datang.” Lalu malaikat Jibril memberitahu Nabi Muhammad, “Di dalam rumahmu terdapat seekor anjing, sehingga ia menghalangiku untuk masuk, karena Kami (para malaikat) tidak mau masuk ke dalam rumah yang di dalamnya terdapat gambar (makhluk bernyawa) atau anjing. (H.R. Bukhari dan Muslim) 

Alasan tidak diperbolehkannya memelihara anjing di rumah tanpa ada suatu keperluan adalah karena dengan membiarkan seekor anjing berkeliaran di rumah, dikhawatirkan akan ada bekas-bekas najis yang berasal dari air liur atau lidah anjing tersebut. Hal ini dikarenakan anjing selalu menjulurkan lidahnya ketika berjalan. Ada juga ulama lain yang berpendapat bahwa hikmah dari dilarangnya memelihara anjing di rumah adalah karena gonggongan anjing tersebut dapat membuat takut para tamu yang datang ke rumah, atau mengganggu para tetangga dan orang yang melewati tempat tersebut.



Meskipun begitu, Syekh Yusuf al-Qaradawi menjelaskan bahwa anjing yang dipelihara untuk suatu keperluan seperti untuk berburu, menjaga hewan ternak dan tanaman mendapatkan pengecualian. Maka memelihara anjing untuk alasan-alasan tersebut hukumnya adalah makruh.

Mendengar atau membaca pembahasan tentang malaikat seringkali membuat hati kita berdecak kagum. Hal ini dikarenakan para malaikat adalah salah satu makhluk Allah yang mulia karena mereka tidak pernah berbuat dosa dan selalu menaati perintah Allah.
 Referensi: -Saifulloh dan Abu Shofia (2003). Menyingkap Tabir Alam Malaikat. Surabaya: Karya Agung

8 Tugas dari Para Malaikat

 

Keberadaan para malaikat adalah sesuatu yang wajib kita imani sebagai seorang Muslim. Allah menciptakan para malaikat dengan tugasnya masing-masing. Di antara para malaikat itu ada yang ditugaskan untuk mengurus alam semesta, sebagai saksi atas suatu amal perbuatan, mendo’akan orang-orang beriman, menyampaikan amal kepada orang yang telah meninggal, dan sebagainya. Dalam artikel kali ini, kita akan membahas 8 tugas dari sekian banyak tugas yang dilakukan para malaikat. Berikut ini pembahasannya:

1. Malaikat yang Mengelilingi Dunia













Dalam sebuah haditsnya, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam menceritakan bahwasanya ada di antara tugas para malaikat Allah adalah mengelilingi dunia ini. Kebenaran serta penegasan tentang hal ini sebagaimana pernah disampaikan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam sebagai berikut: “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala mempunyai beberapa malaikat yang ditugaskan berkeliling dunia menyampaikan salam dari umatku. Maka apabila seorang dari umatku membaca shalawat seratus kali untukku dalam sehari, maka Allah memperkenankan baginya seratus macam hajat. Tujuh puluh hajat di akhirat, sedangkan yang tiga puluh diberikan di dunia.
2. Malaikat yang Memasukkan Nyawa ke Dalam Kandungan
Keterangan yang memberikan gambaran jelas tentang adanya malaikat dengan tugas memasukkan nyawa ke dalam janin adalah riwayat yang berasal dari Abi Abdurrahman Abdillah ibn Mas’ud radiyallahu anhu. Ia mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda (dan beliau adalah yang selalu benar dan yang dituntun Allah):
Sesungguhnya tiap orang di antara kamu dikumpulkan pembentukannya (kejadiannya) di rahim ibunya dalam empat puluh hari berupa air mani yang kental. Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga (empat puluh hari), kemudian menjadi gumpalan seperti sekerat daging, selama itu juga (empat puluh hari) kemudian diutuslah kepadanya malaikat. Maka sang malaikat meniupkan ruh padanya dan diperintahkan (ditetapkan) dengan empat hal (kepadanya): ditentukan rezekinya, ajalnya (umurnya), amalnya (pekerjaannya), celaka atau bahagia (takdirnya). Maka demi Allah yang tiada tuhan selain daripada-Nya, sesungguhnya seseorang di antara kamu ada yang mengerjakan pekerjaan ahli surga maka
mendahuluilah atasnya ketentuan (takdir) Allah, lalu dia mengerjakan pekerjaan ahli neraka, maka dia pun masuk neraka. Dan sesungguhnya salah seorang di antara kamu mengerjakan pekerjaan ahli neraka, sehingga tidak ada antara dia dan neraka kecuali sehasta saja, kemudian dia didahului ketentuan Tuhan atasnya, lalu mengerjakan pekerjaan ahli surga, maka ia pun masuk ke dalam surga.” (H.R Bukhari dan Muslim)
3. Malaikat yang Membentangkan Sayap di Majelis Ilmu
Seperti dikemukakan dalam berbagai keterangan bahwa malaikat memiliki sayap. Dan karena rasa hormat kepada para pencari ilmu, tidak segan-segan para malaikat itu membentangkan sayap yang dimilikinya untuk sekedar diinjak para pencari ilmu tersebut saat pergi belajar. Keterangan pendukung terhadap keberadaan informasi ini adalah sebagaimana diterangkan dalam kitab Ihya’ bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Sesungguhnya malaikat membentangkan sayapnya bagi penuntut ilmu, sebagai tanda kerelaan dengan apa yang mereka perbuat.”
Adapun tentang ketinggian derajat para pencari ilmu, Allah subhanahu wa ta’ala telah menerangkannya dalam Al-Qur’an sebagai berikut:
Allah mengakui bahwa sesungguhnya tidak ada tuhan selain daripada-Nya, dan malaikat-malaikat mengakui, dan orang-orang berilmu, yang tegak dalam keadilan.” (Qs. Ali Imran: 98)
Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman dalam ayat lainnya:
Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu dengan beberapa tingkat.” (Qs. Al-Mujadalah: 11)
 4. Malaikat yang Menghadiri Majelis Dzikir
Dari beberapa keterangan, utamanya yang diperoleh dari berbagai hadits, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah mengutus para malaikat untuk bersaksi atas orang-orang yang menghadiri majelis-majelis dzikir di seluruh dunia. Hal ini tercatat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
Sesungguhnya Allah telah menugaskan malaikat-malaikat yang berkeliling di jalan-jalan mencari majelis-majelis dzikir. Ketika telah menemukannya, mereka lalu saling memanggil temannya yang lain dan berkata ‘Inilah hajat yang kalian cari.’ Maka majelis itu dikerumuni dengan sayap mereka hingga ke langit dunia. Kemudian Allah bertanya kepada para malaikat, padahal Dia lebih mengetahui dari mereka, ‘Apakah yang dibaca oleh hamba-hamba-Ku?’
Para malaikat menjawab, ‘Mereka bertasbih, bertakbir, memuji, dan mengagungkan Engkau.’ Allah kemudian bertanya kembali, ‘Apakah mereka telah melihat Aku?’ Para malaikat menjawab, ‘Demi Allah, mereka belum pernah melihat Engkau.’ Allah bertanya kembali, ‘Bagaimana jika mereka bisa melihat Aku?’ Para malaikat menjawab, ‘Tentu mereka akan lebih giat lagi beribadah, tambah giat memuja Engkau dan memperbanyak tasbih kepada Engkau.’ Allah bertanya, ‘Apakah yang mereka inginkan?’ Para malaikat menjawab, ‘Mereka menghendaki surga.’ Allah kembali bertanya, ‘Apakah mereka tahu terhadap surga itu?’ Para malaikat menjawab, ‘Demi Allah mereka belum pernah melihatnya.’ Allah balik bertanya, ‘Bagaimana seandainya mereka melihatnya?’ Para malaikat menjawab, ‘Tentu mereka akan lebih semangat untuk menggapainya.’ Allah selanjutnya bertanya, ‘Dan dari apakah mereka berlindung?’ Para malaikat menjawab, ‘Mereka memohon perlindungan dari siksa neraka.’ Allah bertanya, ‘Apakah mereka telah melihat neraka?’ Para malaikat menjawab, ‘Demi Allah, mereka tidak pernah melihatnya.’ Lalu Allah bertanya, ‘Bagaimana jika mereka telah melihatnya?’ Para malaikat menjawab, ‘Tentu mereka akan berlari untuk semakin menjauhinya.’ Allah berfirman, ‘Saksikanlah oleh kalian bahwa Aku telah mengampuni dosa-dosa mereka.’
Kemudian seorang malaikat lain ada yang menyampaikan, ‘Ya Allah, di majelis itu ada orang yang bukan dari golongan mereka. Hanya saja kehadirannya disana bertepatan karena ada keperluan, maka datanglah dia ke majelis itu.’ Allah menjawab, ‘Mereka juga termasuk ahli majelis yang tidak akan kecewa, orang yang duduk bersama mereka.’” (Muttafaq ‘Alaihi)
Abu Hurairah dan Abu Sa’id berkata bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam pernah bersabda sebagai berikut:
Tiada suatu kaum yang berkumpul duduk dalam majelis dzikir kepada Allah, melainkan mereka pasti dikelilingi malaikat dan diliputi rahmat Allah, dan diturunkan atas mereka ketenangan, dan diingat oleh Allah di hadapan para malaikat-Nya.” (H.R Muslim) 

5. Malaikat yang Keluar dari Mulut Orang yang Berdzikir
Orang yang senantiasa melakukan kegiatan atau amal baik akan senantiasa mendapatkan perhatian dari Allah. Demikian pula mereka yang senantiasa melakukan dzikir lantaran ingat terhadap kebesaran Allah. Malaikat sebagai makhluk Allah yang tidak pernah melakukan maksiat, juga senang kepada orang-orang yang selalu ingat kepada Allah. Karena itu sebagai rasa suka dan simpati akan perbuatan hamba-hamba Allah yang senantiasa berdzikir kepada-Nya, mereka juga akan turut berdzikir saat manusia berdzikir. Bahkan para malaikat itu keluar dari mulut orang-orang yang berdzikir sebagai jelmaan dzikir mereka. Sedangkan dalil atau bukti penguat terhadap pernyataan ini antara lain sebagai berikut:
Jika seorang hamba mukmin membaca Laa ilaaha illallaah Muhammadur rasuulullaah, keluarlah dari mulutnya seorang malaikat dalam bentuk burung hijau bersayap dua, berwarna putih, yang ditaburi dengan mutiara dan yaqut. Sayap yang satu jika dibentangkan berada di masyriq (timur), sedangkan yang lainnya berada di maghrib (barat). Burung itu naik ke langit hingga sampai ke ‘Arasy disertai suara dengungan seperti dengungan lebah. Lalu malaikat pendukung ‘Arasy berkata, ‘Demi keperkasaan dan keagungan Allah, diamlah!’ Burung itu menjawab, ‘Aku tidak akan berhenti sebelum Allah mengampuni hamba yang membaca kalimat tadi.’ 
Lalu Allah memberinya tujuh puluh ribu lidah yang beristighfar bagi hamba itu sampai hari kiamat, dimana kelak pada hari kiamat malaikat itu akan menuntunnya melewati sirath dan memasukkannya ke surga.”

6. Malaikat yang Bertugas Menyampaikan Amal Kepada Orang yang Meninggal
Seperti yang kita ketahui bahwasanya ketika manusia meninggal, maka tidak akan ada yang dapat membantunya, selain tiga hal. Ketiga hal ini adalah ilmu yang bermanfaat, sedekah jariah, dan do’a anaknya yang shaleh. Dengan demikian kendati seorang manusia telah meninggal, maka akan ada hubungan antara sang mayat dengan mereka yang masih hidup.
Ada malaikat yang ditugaskan khusus untuk menyampaikan amal kepada para mayat. Keterangan yang menyatakan tentang adanya malaikat yang menyampaikan amal orang hidup kepada orang yang telah meninggal disabdakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam sebagai berikut:
Hai Ali, bersedekahlah kamu untuk orang yang telah meninggal, karena Allah menyuruh para malaikat untuk membawa pahala sedekahnya orang hidup kepada orang-orang yang telah meninggal. Maka mereka bersuka ria melebihi suka rianya ketika di dunia. Dan mereka berdo’a, ‘Ya Allah, ampunilah dosa orang yang menerangi kubur kami. Dan gembirakanlah ia dengan surga, sebagaimana ia menggembirakan kami dengan surga pula.’ (Dalam kitab Washiyatul Mushthafa)
7. Malaikat yang Menjadi Saksi di Hari Raya (Idul Fitri)
Disebutkan dalam sebuah hadits, pada hari raya Idul Fitri atau hari raya Fitrah, Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman kepada para malaikat sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam pernah bersabda:
Apabila orang-orang telah berpuasa di bulan Ramadhan kemudian keluar merayakan Idul Fitri, maka Allah berfirman kepada para malaikat-Nya, ‘Hai malaikat-Ku, tiap pekerja menuntut upah, demikian juga hamba-hamba-Ku yang telah berpuasa sebulan penuh dan berhari raya, tentu menuntut upahnya. Saksikanlah bahwa Aku telah mengampuni mereka.’ Lalu terdengar suara panggilan, ‘Hai umat Muhammad, pulanglah kalian ke rumah masing-masing, Aku telah ganti dosa-dosa kalian dengan pahala.’
Lalu Allah berfirman, ‘Hai hamba-hamba-Ku, kalian telah berpuasa dan berbuka untuk-Ku, maka berdirilah kalian dalam keadaan dosa-dosa yang terampuni.’” (Zubdatul Wa’izhin)
8. Malaikat Turut Hadir di Pemakaman Wali Allah
Wali Allah atau juga disebut dengan kekasih-Nya mendapatkan kedudukan yang tinggi di hadapan Allah. Merekalah yang selama hidup di dunia tidak pernah memikirkan jabatan, status, atau glamor kehidupan dunia lainnya. Hidup mereka lurus, tidak berkelok-kelok. Bagi mereka dunia adalah sekedar pelabuhan kecil untuk melanjutkan perjalanan hidup yang lebih panjang lagi. Karenanya, hidup sementara selama di dunia akan mereka manfaatkan semaksimal mungkin untuk aktivitas ibadah.
Karena keberadaan mereka seperti itu, maka Allah begitu memperhatikan kehadiran mereka di dunia. Bahkan murka Allah ketika melihat kemaksiatan yang dilakukan manusia, acap kali reda karena memperhatikan keberadaan para ulama ini.
Karena itu ketika para wali meninggal dunia, maka Allah juga mengutus para malaikat-Nya untuk menghadiri serta menyalati mereka. Dan keterangan yang mengatakan tentang hal ini adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Abi Umamah al Bahili sebagai berikut: 

Malaikat Jibril alaihissalam pernah datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Ketika itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam sedang berada di Tabuk. Jibril datang bersama tujuh puluh ribu malaikat. Lalu Jibril alaihissalam berkata, ‘Ya Rasulullah, lihat dan saksikanlah jenazah Mu’awiyah (bukan Mu’awiyah bin Abu Sufyan).’ Lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam melihat ke arah Madinah setelah sayap Jibril alaihissalam diletakkan di tanah. Lalu beliau bersama malaikat Jibril dan para malaikat lainnya mengerjakan shalat berjama’ah untuk Mu’awiyah.
Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, ‘Wahai Jibril, dengan apa Mu’awiyah mencapai kedudukan / derajat ini?’ Jibril menjawab, ‘Sebab ketekunan Mu’awiyah membaca surat al-Ikhlash di kala ia sedang berdiri, rukuk, dan berjalan.”

Mendengar atau membaca pembahasan tentang malaikat seringkali membuat hati kita berdecak kagum. Hal ini dikarenakan para malaikat adalah salah satu makhluk Allah yang mulia karena mereka tidak pernah berbuat dosa dan selalu menaati perintah Allah.

Referensi: -Saifulloh dan Abu Shofia (2003). Menyingkap Tabir Alam Malaikat. Surabaya: Karya Agung

Definisi Malaikat



 

Malaikat adalah termasuk makhluk Allah. Kendati demikian, ciptaan Allah yang satu ini memiliki perbedaan jika dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya. Dari segi penciptaan misalnya, malaikat dijadikan dari nuur (cahaya). Dari proses awal penciptaannya saja, malaikat berbeda dengan makhluk yang lain. Dalam berbagai keterangan kita pernah mendengar bahwa manusia diciptakan dari tanah. Jin, iblis, atau setan diciptakan dari api oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
Untuk mempertegas hal ini, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Malaikat itu diciptakan dari nuur (cahaya), jin diciptakan dari nyala api, sedangkan Adam diciptakan dari apa yang disifatkan bagi kamu.”

Untuk mempertahankan kelangsungannya, malaikat tidaklah sama dengan manusia. Dalam ilmu biologi kita mendapat penjelasan bahwa untuk dapat bertahan hidup, maka makhluk hidup seperti hewan dan manusia harus makan dan minum, butuh udara, dan semacamnya. Hal ini ternyata tidak berlaku bagi malaikat. Mereka tidak pernah membutuhkan makanan atau minuman dalam jenis apapun untuk bertahan hidup.
Perbedaan lain yang dimiliki malaikat adalah mereka termasuk hamba Allah yang dimuliakan. Letak kemuliaannya adalah bahwa mereka tidak pernah mendurhakai segala perintah yang telah Allah gariskan. Dengan demikian, seluruh perintah Allah akan senantiasa dilaksanakannya , serta berbagai larangan-Nya tidak pernah dilanggar. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
(Para malaikat itu) tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan kepada mereka dan mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya.(Qs. At-Tahrim: 6)
Sifat malaikat yang selalu patuh kepada seluruh perintah Allah dikarenakan mereka sendiri tidak mempunyai hawa nafsu. Adalah sesuatu yang lumrah pabila sifat tersebut dimiliki dan melekat kepada mereka.
Allah juga menciptakan banyak sekali jumlah malaikat. Dari sekian banyak jumlah yang ada, mereka juga memiliki tugas yang berbeda-beda, sesuai dengan yang telah digariskan. Seluruh tugas tersebut mereka laksanakan tanpa ada protes. Dari sejumlah malaikat yang telah Allah ciptakan, setidaknya hanya sepuluh dari jumlah mereka yang wajib untuk diimani. Kesepuluh malaikat tersebut adalah:
1. Malaikat Jibril, dimanakan pula Ruhul Amin atau Ruhul Qudus.
2. Malaikat Mikail
3. Malaikat Israfil
4. Malaikat Izrail
5. Malaikat Raqib
6. Malaikat Atid
7. Malaikat Munkar
8. Malaikat Nakir
9. Malaikat Malik
10. Malaikat Ridwan

Seperti dikemukakan sebelumnya, bahwa keberadaan malaikat adalah makhluk yang terbuat dari cahaya, sehingga mereka seperti jin yang berjisim halus, serta tidak dapat dilihat oleh manusia. Kita hanya wajib mengimani keberadaan mereka, tanpa harus mengetahui hakikatnya. Karena apabila ada keterangan yang menyatakan bahwa malaikat bersayap, maka sudah sepatutnya kita meyakini bahwa sayap yang mereka miliki tidak sama seperti sayap burung.
Apabila dijelaskan bahwa malaikat menjaga tubuh, tumbuhan, dan sebagainya, maka hendaknya kita paham bahwa di dalam alam ini ada alam lain lagi yang lebih halus (alam ghaib). Alam tersebut sangat berlainan dengan alam yang dapat kita rasakan melalui pancaindera. Namun demikian, kita tetap wajib untuk meyakini keberadaannya.
Dengan demikian, malaikat adalah makhluk Allah yang halus, dan kita tidak dapat menyaksikan mereka secara hakiki. Manusia tidak dapat melihat malaikat, juga tidak dapat menentukan bilangan, suku, atau sebagainya. Membahas malaikat, tentunya tidak sampai kepada hakikat sebenarnya karena alat yang mampu untuk melihat hakiki adalah sains atau ilmu pengetahuan. Sedangkan ilmu sains hanya dapat mempelajari dan menganaisis secara cermat terhadap sesuatu apabila objeknya dapat diindera dengan baik. Namun malaikat adalah makhluk halus. Karenanya kewajiban kita hanya sebatas mengimani keberadaannya. Sedangkan hakikat yang sebenarnya kita serahkan kepada Allah Yang Maha Tahu.
Para nabi dapat menjumpai malaikat pembawa wahyu yang kadang-kadang menjelma menjadi manusia dengan kehendak Allah dan terkadang tidak dalam wujud manusia. Namun demikian, kita tidak mengetahui rupa mereka yang sebenarnya.
 Beriman Pada Malaikat
 
 
Mempercayai keberadaan malaikat secara benar menurut syariat Islam adalah dengan mempercayai bahwa malaikat adalah makhluk ghaib yang biasa yang diciptakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dan mereka BUKAN sebagai untuk disembah. Yang kita sembah hanyalah Allah. Oleh karena itu disamping keimanan terhadap malaikat, kita juga tetap mengerjakan shalat, menyembah kepada Allah, menginfakkan harta sesuai dengan ketentuan Islam, beriman kepada kitab-kitab terdahulu, dan sebagainya. Hal ini sebagaimana ditegaskan Allah dalam firman-Nya sebagai berikut:
Kitab Al-Qur’an ini tidak ada keraguan di dalamnya; petunjuk bagi mereka yang bertakwah. (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, yang menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugrahkan kepada mereka.” (Qs. Al-Baqarah: 2-4)
Sedangkan cara yang salah dalam mengimani malaikat adalah mempercayai mereka sebagai makhluk ghaib, namun juga menyembah mereka. Hal seperti ini dapat kita saksikan dari para penganut animisme manupun dinamisme, atau kepercayaan-kepercayaan di luar agama Islam. Namun kita sebagai Muslim tidak mengimani para malaikat seperti itu, melainkan hanya sebatas meyakini keberadaan mereka tanpa menyembah mereka.

Mendengar atau membaca pembahasan tentang malaikat seringkali membuat hati kita berdecak kagum. Hal ini dikarenakan para malaikat adalah salah satu makhluk Allah yang mulia karena mereka tidak pernah berbuat dosa dan selalu menaati perintah Allah.

 Referensi: - Saifulloh dan Abu Shofia (2003). Menyingkap Tabir Alam Malaikat. Surabaya: Karya Agung

Hukum Memilih Caleg Non-Muslim dalam Pemilu?

Kita sudah mengenal bagaimana semboyan dalam politik, “Tak ada teman abadi. Tak ada musuh abadi. Yang ada hanya kepentingan abadi.” Dan kita dengar belakangan ini, beberapa partai Islam dan yang katanya memperjuangkan Islam mulai memasukkan nama caleg mereka termasuk pula caleg non-muslim. Bahkan ada pula partai yang terkenal membela Islam memasukkan pula caleg “pendeta”. Lepas dari sistem demokrasi yang jelas bermasalah karena orang bodoh dan orang pintar disamakan, ahli maksiat dan seorang kyai pun suaranya sama dalam sistem ini, yang sekarang kita persoalkan adalah bolehkah memilih caleh dari kalangan non-muslim, apalagi seorang pendeta.
Berikut Fatwa no. 7796, Soal no. 3 dari Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ (Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia)
س3: هل يجوز للمسلم أن يدلي بصوته في الانتخابات، وهل يجوز إدلاء صوته لصالح الكفار.
ج3: لا يجوز التصويت من المسلمين لصالح الكفار؛ لأن في ذلك رفعة لهم، وإعزازا لشأنهم، وسبيلا لهم على المسلمين، وقد قال الله تعالى: { وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا } (1)
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد، وآله وصحبه وسلم.
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
عضو … عضو … نائب رئيس اللجنة … الرئيس
عبد الله بن قعود … عبد الله بن غديان … عبد الرزاق عفيفي … عبد العزيز بن عبد الله بن باز
Soal:
Apakah boleh bagi seorang muslim  memberikan suara kepada caleg non-muslim (yang kafir)?

Jawab:
Kaum muslimin tidak boleh memberikan suara kepada calon non muslim. Tindakan tersebut berarti memuliakan dan meninggikan posisi orang kafir serta memberi jalan bagi orang kafir agar bisa menguasai kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا
Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (QS. An Nisa’: 141)
Hanya Allah yang memberi taufik. Semoga shalawat dan salam dari Allah tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
[Fatwa ini ditandatangani oleh Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud dan Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayan selaku anggota, Syaikh ‘Abdur Rozaq ‘Afifi selaku wakil ketua, dan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz sebagai ketua] 
Ada yang berdalil dengan kesahan memilih caleg non-muslim dengan hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, di mana ia bercerita,
وَاسْتَأْجَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَبُو بَكْرٍ رَجُلًا مِنْ بَنِي الدِّيلِ هَادِيًا خِرِّيتًا، وَهُوَ عَلَى دِينِ كُفَّارِ قُرَيْشٍ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar mengupah seorang laki-laki dari Bani Ad Diil sebagai petunjuk jalan, dan dia adalah seorang beragama kafir Quraisy. (HR. Bukhari no. 2264).
Ini memang menjadi dalil para ulama akan bolehnya mempekerjakan orang kafir. Namun pembolehannya dengan syarat:

  1. Orang kafir tidak memiliki kekuasaan menguasai kaum muslimin
  2. Orang kafir tidak merasa di atas kaum muslimin.
Jadi sah-sah saja jika mempekerjakan orang kafir di pabrik atau untuk proyek pembangunan. Sebagaimana Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah bekerjasama dalam mudhorobah (usaha bagi hasil) untuk mengurus tanaman dengan seorang Yahudi dari Khoibar. Yahudi tersebut lalu mendapatkan separuh dari hasil panen. Adapun jika mempekerjakan non-muslim lantas mereka memiliki kekuasaan pada kaum muslimin atau mereka bisa mengorek berita-berita kaum muslimin, maka seperti ini tidak dibolehkan. Lihat Tadzhib Tashil Al ‘Aqidah Al Islamiyah, hal. 238, karya Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al Jibrin.
Jika kita melihat kembali hadits Bukhari yang disebutkan di atas, diterangkan bahwa non-muslim tersebut bertindak sebagai penunjuk jalan saja, bukan ingin memperjuangkan Islam. Itu pun termasuk bentuk tolong menolong yang mubah selama syarat di atas yang kami sebutkan terpenuhi. Sedangkan dalam hal Pemilu, jika caleg non-muslim yang dipilih, maka mustahil ia bisa memperjuangkan Islam di negeri minoritas muslim. Jika yang muslim saja tidak bisa memperjuangkan dakwah Islam di negeri minoritas, bagaimana sampai mengharap dari non-muslim? Apa jika caleg non-muslim terpilih bisa mengajak masyarakat muslim untuk shalat dan menunaikan kewajiban yang lain? Lebih aneh lagi jika yang jadi caleg adalah seorang pendeta dan ia disuruh menyuarakan Islam. Padahal kita tahu sendiri bahwa pendeta itulah yang paling benci pada Islam. Lantas bagaimana bisa jadi penolong atau mau dianalogikan dengan penunjuk jalan di atas?!
Ditambah lagi jika kita kembali di awal dengan mengkritik sistem demokrasi yang jelas menyelisihi prinsip Islam. Dan tidak pernah di negeri kita ini dijumpai patai yang memperjuangkan Islam dengan masuk Parlemen bisa berhasil menegakkan syari’at Islam di tanah air. Bagaimana mungkin para kyai bisa mengalahkan para preman lewat sistem demokrasi yang menghalalkan segala cara?!
Yang bisa menyadari hal ini jika ia masih membuka hati dan menerima kebenaran. 

Hanya Allah yang memberi hidayah dan taufik.
Sumber: Muslim.or.id 
Referensi: www.lampuislam.org 

Senin, 05 Desember 2016

Apakah Kedua Orangtua Rasulullah Akan Masuk Neraka?

 
Disusun oleh Nashih Nashrullah dari republika.co.id
Persoalan ini bukan prinsip agama yang berdampak pada status keimanan seseorang, namun pertanyaan ini cukup menggelitik. Tetapi, penting menemukan jawaban yang tepat. Di satu sisi, hadist riwayat Muslim menyebutkan bahwa Rasulullah SAW sendiri menegaskan bahwa kedua orang tuanya,ada di neraka. Pernyataan Rasul tersebut merespons pertanyaan perihal nasib kedua orang tua seorang sahabat. “Sesungguhnya, kedua orang tuamu dan orang tuaku ada di neraka,” sabda Rasul.
Tetapi, di sisi lain ada satu fakta bahwa kedua orang tua Nabi hidup pada masa kevakuman seorang nabi dan rasul. Pascameninggalnya Nabi Isa AS belum ada lagi sosok Rasul yang diutus untuk berdakwah dan membimbing segenap umat. Karena itu, mereka yang berada pada periode kekosongan risalah itu dinyatakan selamat dan tidak mendapat siksa. “Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS al-Isra' [17]: 15).


Topik ini pun menuai pro dan kontra. Syekh Abdullah bin Baz berpandangan bahwa riwayat Muslim tersebut autentik dan valid. Tidak mungkin Rasul berdusta atas ucapannya sendiri (QS An-Najm 1-4).
Kedua orang tua Rasul akan diminta pertanggungjawaban. Apalagi, telah terjadi penyimpangan atas ketulusan agama Ibrahim AS. Ini berlangsung ketika Amr bin Luhay al-Awza'i melakukan penodaan agama Ibrahim. Selama menguasai Makkah, Amr mengajak para penduduknya untuk menyembah berhala.
Karena itu, kedua orang tua Rasul, menurut Syekh Abdullah bin Baz, termasuk golongan kufur. Ini merujuk pula pada hadist riwayat Muslim yang mengisahkan bahwa Allah SWT melarang Rasul mendoakan keselamatan keluarganya, tak terkecuali ayahandanya, Abdullah bin Abdul Muthalib, dan ibundanya, Aminah.  
Namun Lembaga Fatwa Mesir, Dar al-Ifta, menyanggah keras pernyataan Syekh Abdullah bin Baz tersebut. Menurut lembaga yang pernah dipimpin oleh Mufti Agung Syekh Ali Juma'h itu, pernyataan bahwa kedua orang tua  Rasul termasuk kufur dan akan menghuni neraka merupakan bentuk arogansi dan ketidaksopanan.
Justru fakta kuat mengatakan, kedua orang Rasul akan selamat dan bukan termasuk penghuni neraka. Pendapat ini menjadi kesepakatan mayoritas ulama. Tak sedikit ulama yang secara khusus menulis risalah sederhana untuk menjawab kegamangan menyikapi topik ini.
Imam as-Suyuthi mengarang dua kitab sekaligus untuk menguatkan fakta bahwa orang tua Muhammad SAW akan selamat. Kedua kitab itu bertajuk Masalik al-Hunafa fi Najat Waliday al-Musthafa dan at-Ta'dhim wa al-Minnah bi Anna Waliday al-Mushthafa fi al-Jannah.
Selain kedua kitab tersebut, ada deretan karya lain para ulama, seperti ad-Duraj al-Munifah fi al-Aba' as-Syarifah, Nasyr al-Alamain al-Munifain fi Ihya al-Abawain as-Syarifain, al-Maqamah as-Sundusiyyah fi an-Nisbah al-Musthafawiyyah, dan as-Subul al-Jaliyyah fi al-Aba' al-Jaliyyah. Masih banyak kitab lain yang membantah dugaan bahwa orang tua Rasul akan masuk neraka.
Dar al-Ifta memaparkan, mengacu ke deretan kitab tersebut, kedua orang tua Rasul hidup pada masa fatrah atau kekosongan risalah. Ketika itu, dakwah tidak sampai pada masyarakat Makkah. Ulama ahlussunnah sepakat, mereka yang hidup pada periode kevakuman risalah itu dinyatakan selamat. Ini merujuk pada ayat ke-15 surah al-Isra' di atas.
Sekalipun keduanya akan melalui ujian melintasi jembatan shirath, seperti halnya umat lainnya maka keduanya termasuk golongan yang taat. “Berbaiksangkalah kedua orang tua Rasul merupakan golongan taat saat ujian melintasi jembatan,” kata Imam Ibn Hajar al-Asqalani, seperti dinukilkan oleh Dar al-Ifta'
Tuduhan bahwa keduanya termasuk kaum musyrik yang menyekutukan Allah dengan berhala, tidak benar. Abdullah dan Aminah tetap konsisten dalam keautentikan agama Ibrahim, yaitu tauhid. Fakta kesucian keyakinan kedua orang tua Rasul ini dikuatkan antara lain oleh Imam al-Fakhr ar-Razi dalam kitab tafsirnya Asrar at-Tanzil kala menafsirkan ayat ke 218-219 surah as-Syu'ara .
Imam as-Suyuthi menambahkan, dalil lain tentang fakta bahwa garis keturunan Rasul yang terdekat terjaga dari aktivitas penyimpangan akidah. Ini seperti ditegaskan hadist bahwa Rasululllah dilahirkan dari garis nasab yang istimewa dan terpilih yang konsisten terhadap tauhid.
Imam as-Suyuthi kembali menerangkan soal hadist Muslim pada paragraf pertama. Tambahan redaksional “Dan ayahku di neraka” sangat kontroversial di kalangan pengkaji hadist. Para perawi tidak sepakat tambahan tersebut. Sebut saja al-Bazzar, at-Thabrani, dan al-Baihaqi yang lebih memilih tambahan redaksi “Jika engkau melintasi kuburan orang kafir maka sampaikan berita neraka” dibanding, imbuhan bermasalah tersebut.

Arogansi
Ada banyak argumentasi yang membantah dugaan bahwa kedua orang tua Rasul akan masuk neraka. Semestinya, tuduhan tersebut tidak ditudingkan kepada ayahanda dan ibunda Rasul yang terhormat. Karena, itu adalah bentuk arogansi terhadap Rasul.
Qadi Abu Bakar Ibn al-Arabi pernah ditanya soal topik serupa. Tokoh bermazhab Maliki ini pun menjawab, bila soal itu direspons dengan jawaban bahwa keduanya masuk neraka maka terlaknatlah orang yang menjawab demikian. Menganggap keduanya ahli neraka adalah bentuk melukai perasaan Rasul. “Tak ada penganiayan lebih besar ketimbang menyebut kedua orang tua Muhammad SAW penghuni neraka,” kata Ibn al-Arabi.
Ia pun mengutip ayat, “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.” (QS al-Ahzab [33]:57).
Reaksi keras juga ditunjukkan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Ketika itu, ia menginstruksikan pegawainya agar mengutamakan para pegawai yang kedua orang tuanya Muslim dan berasal dari etnis Arab.
Dengan spontan, sang pegawai menjawab instruksi tersebut dan mengatakan, “Memang masalah? Bukankah kedua orang tua Rasulullah non-Muslim?” Sang Khalifah marah besar. Ia pun langsung memberhentikan pegawainya tersebut agar menjadi pelajaran bagi semua dan tidak sembarangan bicara.
Atas dasar inilah, seyogianya tidak mudah menjustifikasi status kedua orang tua Rasul. Mantan Mufti Dar al-Ifta, Syekh Muhammad Bakhit al-Muthi'I, mengimbau supaya umat berhati-hati. Tuduhan kekufuran Abdullah dan Aminah salah besar dan pelakunya berdosa. Ini lantaran dianggap sebagai aksi mencederai Rasulullah. Para pelaku tersebut tidak dihukumi keluar agama akibat perbuatannya itu. Pasalnya, persoalan ini bukan termasuk prinsip agama dharuriyyat ad-din.
 Wallahuallam
 
Referensi: www.lampuislam.org