Otak manusia bisa dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
Otak kanan
Otak kiri
Manfaat membaca al-Qur'an bagi kedua bagian otak:
1. Otak kanan
Nada dan irama ketika membaca al-Qur'an, ditambah jika diniati dengan
menghafalnya, maka hal ini dapat memperkuat fungsi otak kanan. Otak
kanan adalah otak yang melahirkan ide-ide, kreativitas, inovasi,
memperkuat memori jangka panjang, dll.
2. Otak kiri
Teknik membaca al-Qur'an dengan kaidah tajwid dapat memperkuat ingatan
dan membantu fungsi berpikir dan nalar. Fungsi yang ada pada otak kiri
manusia.
Kehidupan ini adalah
nyata. Lebih nyata dari pendapat siapa pun tentang kenyataan. Ia terus
bergerak, mengalir, dan berubah. Hari ini, seseorang miskin bertelanjang
kaki. Esok hari, tiba-tiba ia menjadi miliyuner yang membangun gedung
pencakar langit yang tinggi. Nabi ﷺ pernah bersabda menggambarkan
situasi kehidupan akhir zaman,
“Dan bila engkau menyaksikan mereka yang berjalan tanpa alas kaki,
tidak berpakaian, fakir, dan penggembala kambing, (kemudian)
berlomba-lomba membuat bangunan yang tinggi.”
Sabda beliau ini nyata! Lebih nyata dari pendapat siapapun tentang kenyataan.
Kali ini kita bercerita tentang Dubai, sebuah emirat (propinsi) di
negara Uni Emirat Arab yang menjadi bukti dari sekian banyak kebenaran
sabda Nabi. Sabda Nabi ﷺ
Suatu hari, bumi menjadi saksi pertemuan dua makhluk agung dan mulia.
Malaikat yang terbaik berjumpa dengan manusia termulia. Malaikat Jibril
datang menjumpai Nabi kita Muhammad ﷺ. Jibril datang dengan wujud
manusia. Ia datang dengan penampilan indah. Mengenakan baju yang teramat
putih ditimpali warna rambut yang hitam kelam. Ia datang berdialog
dengan Nabi Muhammad ﷺ untuk memberikan pengajaran kepada para sahabat.
Jibril bertanya tentang Islam, iman, dan ihsan. Kemudian ia bertanya
tentang tanda kiamat. Di antara jawaban Nabi ﷺ adalah,
“Dan bila engkau menyaksikan mereka yang berjalan tanpa alas kaki,
tidak berpakaian, fakir, dan penggembala kambing, (kemudian)
berlomba-lomba membuat bangunan yang tinggi.” (HR. Muslim).
Inilah di antara tanda-tanda hari kiamat. Tanda hari kiamat ada yang
sifatnya baik. Ada pula yang buruk. Ada pula hanya sekedar kabar atau
tanda yang aslinya tidak bersifat baik ataupun buruk. Hanya sekadar
tanda dan kabar agar manusia sadar bahwa kiamat pasti terjadi. Contohnya
seperti berlomba-lomba membuat bangunan yang tinggi ini.
Dalam hadits lain, yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ada keterangan tambahan. Ibnu Abbas bertanya kepada Nabi ﷺ:
“Wahai Rasulullah, dan siapakah para pengembala, orang yang tidak
memakai sandal, dalam keadaan lapar dan yang miskin itu?” Beliau
menjawab, “Orang Arab.” (Musnad Ahmad, IV/332-334, no. 2926). Emirat Dubai
Dubai adalah salah satu emirat di wilayah Uni Emirat Arab (UAE). UAE
sendiri merupakan sebuah negara federasi yang terdiri dari tujuh emirat
yang kaya akan minyak bumi. Tujuh emirat ini adalah: Abu Dhabi, Ajman,
Dubai, Fujairah, Ras al-Khaimah, Sharjah, dan Umm al-Qaiwain. Pada tahun
1971, enam dari emirat ini – Abu Dhabi, Ajman, Fujairah, Sharjah,
Dubai, dan Umm al-Qaiwain – bergabung untuk mendirikan Uni Emirat Arab.
Setahun berikutnya, Ras al-Khaimah menyertai mereka. Dubai adalah
ke-emiran yang paling populer.
Ada yang mengatakan, nama kota ini berasal dari bahasa Persia. Karena
dulu wilayah ini berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Sasaniyah Persia.
Ada pula yang mengatakan kata Dubai berasal dari bahasa Arab dabba
(Arab: دَبَّ – يَدُبُّ) yang artinya menjalar atau mengalir. Karena di
Dubai terdapat aliran sebuah sungai air garam yang sekarang dikenal
dengan Khor Dubai atau Dubai Creek.
Dubai terletak di sepanjang pantai Teluk Arab dipimpin oleh keluarga
al-Maktoum sejak 1883. Pemimpinnya saat ini adalah Mohammed bin Rashid
al-Maktoum yang juga menjabat sebagai Perdana Menteri dan Wakil Presiden
UEA. Dubai Sebelum Metropolis
Dalam wawancara dengan BBC, Syaikh Mohammed bin Rashid al-Maktoum
menunjukkan rumah kakeknya, tempat bermain di masa kecilnya. Ia
mengatakan, “Inilah tempat ayahku, ibuku, dan kami tinggal. Saat aku
lahir tidak ada listrik di sini. Hanya bagian itu dan itu (ia menunjuk
dua titik tempat lampu menyala di rumah besar itu) dan tidak ada air”.
Pernyataan singkat ini, menggambarkan bagaimana keadaan Dubai sebelum
bertransofmasi menjadi kota metropolis. Rumah keluarga al-Maktoum,
keluarga Emir Dubai, adalah rumah yang gelap dan kesulitan air. Apalagi
rumah rakyat biasa.
Meskipun minyak sudah ditemukan sejak tahun 1966, tahun 1973, hanya
ada satu hotel berkelas di sana, Hotel Sheraton. Kalau sekarang malah
sangat sulit menemukan hotel yang tidak berbintang lima di Dubai, bahkan
ada hotel berbintang tujuh di sana.
Simaklah gambar dan video berikut untuk mengetahui kondisi Dubai sebelum menjadi kota metropolis:
Sebuah pasar di pusat Kota Dubai pada tahun 1970Caravan onta di Dubai. Berlangsung antara tahun 1960an – 1970an.Dubai pada tahun 1960an-1970anDubai Metropolis
Islam adalah agama yang tidak menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan
dan teknologi. Inovasi dalam hal dunia dibuka selebar-lebarnya selama
tidak melanggar syariat. Di zaman dahulu umat Islam terkenal dengan
kemajuan arsitekturnya. Oleh karena itu, tanda hari kiamat berupa
berlomba-lombanya manusia dalam meninggikan bangunan tidak dikategorikan
sebagai permasalahan yang nilai dasarnya jelek. Bahkan bisa jadi
pembangunan ini bermanfaat dan maslahat.
Dubai Modern
Sekarang di Dubai, semuanya serba besar, luas, dan tinggi. Megah,
mewah, sampai membuat mulut ternganga. Dubai adalah kota dengan
pertumbuhan tercepat di dunia. Gurun yang kosong telah berubah menjadi
gedung-gedung pencakar langit. Onta-onta telah berubah menjadi Ferrari,
Mercedes, Hummer, dll. Di antara bangunan tinggi di Dubai adalah: Pertama: Burj Dubai atau yang dikenal Burj Khalifa,
Merupakan bangunan tertinggi di dunia. Tingginya 818 m, kurang 182 m
lagi jadi 1 Km. di dalamnya ada 30.000 rumah dan 9 hotel mewah. Kedua: 10 Hotel tertinggi di dunia, 7 di antaranya
ada di Dubai. Lima hotel tertinggi; JW Marriott Marquis Dubai (355 m),
Rose Rayhaan (333 m), Burj Al Arab (321 m) hotel termewah di dunia,
Jumeirah Emirates Towers Hotel (309 m), The Address Downtown Dubai (306
m), semuanya ada di Dubai. Ketiga: Shopping Mall terbesar di dunia adalah Dubai
Mall dengan luas 50 kali luas lapangan sepak bola dan terdapat 1.200
toko. Di dalamnya ada akuarium terbesar di dunia yang isinya 33.000
hewan laut. Keempat: al-Maktoum International Airport atau Dubai International Airport merupakan bandara terluas ke-3 di dunia. Kelima: Dubailand. Sekarang Walt Disney World Resort
di Orlando memegang rekor taman bermain terluas di dunia. Kalau
pembangunan Dubailand rampung, maka taman yang luasnya dua kali lipat
Walt Disney ini akan memegang rekor baru.
Aquarium di Dubai Mall
Masih banyak lagi gedung-gedung tinggi dan bangunan-bangunan yang
‘wah’ di Dubai. Ada menara kembar Emirates Tower yang bentuknya seperti
dua batang cokelat Toblerone. Hotel bawah laut di kedalam 33 m. Gedung
68 lantai, yang tiap lantainya bisa berputar 360°. Belum lagi pulau
buatannya seperti The World terdapat 300 pulau buatan membentuk peta
dunia. Kemudian juga Palm Island yang terdapat 2000 vila dan 40 hotel
mewah. Belum lagi kendaraan super mewah. Anda masih berpikir orang Arab
identik mengendarai onta? Ubah segera perspektif lama itu. Di Dubai,
mobil mewah berlapis perak dan emas pun ada. Sampai-sampai polisi Dubai
layak disebut World’s Fastest Police karena kendaraan mereka McLaren MP4-12C, Lamborghini, Aston Martin, Bentley, dan Ferrari.
Mereka yang dulu miskin, telanjang kaki, tak berbaju itu telah membuktikan kebenaran sabda Nabi ﷺ. Pelajaran:
Penulis tidak menginginkan pembaca hanya terpaku dan terhenti dalam
khayalan, membayangkan kemegahan Duai. Bukan itu pesan yang ingin
disampaikan.
Cobalah renungkan Sabda Nabi ﷺ. Bernarlah apa yang beliau kabarkan.
Hal itu pula menunjukkan mukjizat beliau. Beliau mengabarkan tentang
sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang. Orang yang hidup di
masa tersebut akan menyaksikannya.
Beliau mengabarkan tentang orang-orang miskin berlomba-lomba
meninggikan bangunan. Hal itu telah terjadi. Dan kita telah menjadi
saksinya. Beliau mengabarkan tentang turunnya Nabi Isa, keluarnya
Dajjal, Ya’juj dan Ma’juj, hal ini pun pasti terjadi. Orang yang hidup
di zamannya akan menjadi saksinya.
Dan beliau ﷺ mengabarkan tentang kenikmatan surga dan kengerian
neraka, orang yang percaya sebelum mereka menyaksikannya, merekalah
orang yang beruntung dan berbahagia. Orang yang baru percaya ketika
menyaksikannya, mereka benar-benar dalam penyesalan dan duka cita yang
mendalam.
“Saat ini, dunia itu nyata dan
neraka hanyalah cerita. Akan tetapi ketika di akhirat, Neraka adalah
nyata dan dunia hanyalah cerita.”
Kita
seringkali membaca atau mendengar hadits-hadits yang berasal dari Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wassalam, baik ketika kita membacanya pada suatu artikel di
internet, melalui buku-buku agama, melalui ceramah-ceramah agama di TV dan di
radio, dan sebagainya. Hadits-hadits itu berisi tentang kabar-kabar yang harum
dari para Sahabat tentang kisah hidup Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi
wassalam, akhlaq beliau, suka dan duka yang beliau alami, dan juga
nasihat-nasihat serta larangan dari beliau. Maka sudah sepantanyalah kita
sebagai seorang Muslim mengetahui apa sebenarnya hak-hak beliau atas diri kita
dan kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi hak-hak tersebut.
Kewajiban kita kepada beliau adalah beriman dan mempercayai segala perhatian dan
tindakan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam serta seluruh ajaran yang
beliau bawa. Kita wajib menaati ajaran beliau dan menjauhi apa-apa yang
menyebabkan kita menjadi ingkar dan tidak percaya kepada beliau.
Kita
harus rela dengan hukum dan sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Kita
harus menempatkan beliau pada posisi sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah serta
tidak menganggap remeh ajaran beliau. Kita wajib menjadikan beliau sebagai
teladan sepanjang masa. Kita juga wajib mencintai beliau, menghormati, serta
membela kehormatan beliau apabila ada orang yang mencoba merendahkan,
sebagaimana kita juga wajib mencintai dan membela keluarga serta
sahabat-sahabat beliau.
Allah
telah berfirman, “Sesungguhnya Allah dan
para malaikat-Nya bershalawat untuk Rasulullah. Hai orang-orang yang beriman,
bershalawatlah kamu untuk Rasulullah dan ucapkanlah salam penghormatan
kepadanya.” (Qs. al-Ahzab: 56)
Nabi
Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam pernah bersabda, “Hari yang paling baik di
antara hari-harimu adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan dan
ditiupkan ruh (kepadanya). Maka perbanyaklah bershalawat kepadaku pada hari
Jumat. Sesungguhnya shalawat kaumku diperlihatkan dan disampaikan kepadaku.”
Kemudian seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana shalawat bisa sampai
kepada engkau, sedangkan jasadmu telah rusak?” Rasulullah menjawab, “Allah
telah mengharamkan tanah untuk memakan jasad para nabi.” (H.R. Abu Daud)
Sebagai
umatnya, tentunya kita tidak boleh kikir kepada hak beliau. Sabda beliau, “Orang yang kikir adalah orang yang apabila
aku disebut di hadapannya, orang itu tidak mau bershalawat kepadaku.” (H.R. Tirmidzi)
Rasulullah
juga bersabda,
“Tidak berkumpul suatu kaum dalam satu
majelis, dan tidak disebut di dalamnya nama Allah serta tidak bershalawat
kepada nabinya, kecuali ditimpakan kepada mereka suatu kebohongan. Kalau Allah
menghendaki, mereka akan disiksa, dan kalau Dia berkehendak, mereka akan
diampuni.” (H.R. Tirmidzi)
Maka
dari itu janganlah kita meninggalkan ajaran beliau dan sudah sepantasnya kita
mematuhi ajaran-ajaran beliau. Apalagi ketika kita sudah banyak membaca sirah
kehidupan beliau yang dipenuhi kisah-kisah mulia tentang keberanian,
perjuangan, kesabaran, dan keteguhan beliau dalam memperjuangkan agama ini.
Sungguh sangat indah kisah hidup beliau. Masih membekas di benak kita akan
petunjuk Rasulullah. Sepak terjang dan sunnah Rasulullah bisa kita lihat dalam
diri para ulama salaf dan para pengikut mereka. Karena, merekalah para pengganti
dan pewaris Nabi Muhammad. Mudah-mudahan Allah memberikan kepada kita kekuatan
untuk mengikuti sunnah Nabi Muhammad dan menjadikan beliau sebagai teladan.
Berkata
Imam Ahmad bin Hanbal, “Aku tidak menulis sebuah hadits, kecuali aku telah
mengamalkannya terlebih dahulu. Sampai-sampai ketika sampai kepadaku sebuah
hadits bahwa Rasulullah berbekam dan memberi Abu Thaibah satu dinar (sebagai
upahnya), aku juga memberi satu dinar kepada tukang bekam sewaktu akan
berbekam.” [1]
Abdurrahman
bin Mahdi berkata, “Aku mendengar Sufyan ats-Tsauri berkata, ‘Aku mengamalkan
setiap hadits Raslullah yang sampai kepadaku walau hanya sekali.’” [2]
Muslim
bin Yassar berkata, “Aku shalat sambil memakai sandal, padahal sebenarnya aku
lebih suka melepaskannya karena lebih mudah, tetapi aku melakukan hal itu
karena mengikuti sunnah.” (H.R. Bukhari)
Sebagai
penutup dari artikel ini, penulis cantumkan sabda kekasih tercinta, Nabi
Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam dalam sebuah hadits agung, “Seluruh umatku
akan masuk surga, kecuali yang tidak mau.” Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah,
siapakah yang tidak mau masuk surga?” Beliau bersabda,
“Barangsiapa yang taat kepadaku dia akan
masuk surga, dan yang maksiat kepadaku (tidak mengikutiku), dialah orang yang
tidak mau (masuk surga).” (H.R.
Bukhari)
Ya
Allah, ya Rabb kami! Karuniakanlah kepada kami kecintaan kepada rasul-Mu dan
berikanlah kepada kami kesempatan untuk mengikuti jejak langkah rasul-Mu, yaitu
jalan orang-orang yang tidak sesat dan tidak menyesatkan.
Ya
Allah, shalawat kami kepada Nabi Muhammad sepanjang pergantian siang dan malam.
Ya Allah, ucapkanlah shalawat kami kepada beliau, sebagaimana orang-orang yang
Engkau kasihi mengucapkannya.
Ya
Allah, kumpulkanlah kami di surga nanti bersama rasul-Mu dan sejukkanlah mata
kami dengan melihat wajahnya yang agung serta berikanlah kami kesempatan untuk
minum dari telaga beliau sehingga kami tidak akan haus selamanya. Mudah-mudahan
Allah memberikan rahmat dan salam-Nya kepada beliau, keluarga beliau, dan
sahabat-sahabat yang mulia tanpa terkecuali.
Sifat
keras, kasar, dan kejam sangat dibenci oleh Nabi Muhammad. Beliau menganjurkan
kita untuk mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran dengan jalan yang
baik dan lemah lembut. Sebab, dengan berbuat baik kepada orang lain, kecil
kemungkinannya orang berkeinginan untuk berbuat jahat kepada kita. Kalau bisa,
walaupun kita disakiti, jangan dibalas, bahkan balaslah dengan kebaikan. Inilah
sifat hilm yang dianjurkan Nabi
Muhammad.
Nabi
Muhammad tidak pernah membalas dendam pribadi, tidak pernah memukul kecuali
dalam perang. (H.R. Ahmad)
Diriwayatkan dari Anas, “Aku berjalan bersama Rasulullah, beliau memakai kain
sorban tebal buatan Najran yang beliau lilitkan di lehernya. Tiba-tiba ada
orang desa menarik sorban tersebut dengan keras dan kasar, sehingga aku melihat
bekasnya di bahu beliau. Lalu orang itu berkata, ‘Wahai Muhammad! Berilah
padaku harta Allah yang ada padamu!’ Rasulullah menoleh dan tertawa, kemudian
menyuruh untuk memberi uang pada orang tersebut.” (Muttafaq ‘alaih)
Sewaktu
beliau pulang dari perang Hunain, orang-orang Badui desa mengikutinya dan
meminta sesuatu dari Nabi Muhammad, sampai-sampai beliau berkata, “Demi Allah.
Seandainya aku punya ternak sebanyak kayu-kayu kecil ini, aku bagikan semuanya
kepada kalian, sehingga kalian tidak menemukan aku pelit, penakut, dan
pembohong.” (H.R. al-Baghawi)
Nabi
Muhammad tidak cepat marah dan memaklumi orang yang berbuat salah karena tidak
tahu atau lupa. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa suatu hari orang Badui desa
datang ke masjid dan pipis di dalamnya. Orang-orang yang melihatnya marah dan
berhambur mau memukulnya, tetapi dicegah oleh Rasulullah yang bersabda, “Biarkan
dia, dan siramlah air bekas pipisnya. Kita diutus bukan untuk memberatkan tapi
untuk mempermudah.” Inilah contoh dari sifat rifq.
Kesabaran
Nabi Muhammad dalam berjihad dan berdakwah sudah teruji dengan baik. Kita patut
mencontoh beliau untuk sabar tidak dalam kepentingan pribadi. Aisyah
meriwayatkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Dia
berkata, ‘Apakah ada saat bagimu yang lebih keras dari Perang Uhud?’ Aku
menjawab, ‘Ada. Yaitu permusuhan kaummu (Quraisy) di Aqabah.’ Ketika kutawarkan
diriku pada Ibnu Abdi Jalail bin Abdi Kilal, ia tidak menerima diriku. Lalu aku
pergi dalam keadaan sedih, lalu aku melihat di atas awan, Jibril memanggilku,
‘Sesungguhnya Allah mendengar apa yang dikatakan kaummu kepadamu. Dan apa yang
telah mereka lakukan terhadapmu. Aku diutus kepadamu untuk memerintahkan
malaikat penjaga gunung untuk patuh pada perintahmu. Lalu malaikat penjaga
gunung itu mengucap salam kepadaku dan berkata, ‘Wahai Muhammad. Allah telah
mendengar apa yang dikatakan oleh kaummu kepadamu. Aku ditugaskan oleh Allah
untuk memenuhi perintahmu. Kalau engkau suka, dua gunung ini akan kubalikkan
dan kukubur mereka.’” Namun, Rasulullah menjawab, “Jangan. Aku hanya berharap
semoga di antara anak cucu mereka ada yang mau menyembah Allah dan tidak
menyekutukan-Nya.’” (Muttafaq ‘alaih)
Masya Allah! Betapa kasih sayang beliau begitu besar. Kadang-kadang
para penyeru dakwah tergesa-gesa dan tidak sabar dengan dakwah mereka.
Karenanya, banyak dakwah yang gagal karena kurangnya keteguhan hati dan
kesabaran akan perintah Allah. Ingatlah, 13 tahun Nabi Muhammad menanggung
beban berat di Mekkah sampai akhirnya pindah ke Madinah.
Diriwayatkan
dari Ibnu Mas’ud, “Aku melihat Rasulullah seakan-akan seperti seorang nabi yang
dipukul oleh kaumnya sampai berdarah, kemudian membersihkan darah dari wajahnya
sambil berkata, “Ya Allah, ampunilah
kaumku karena mereka tidak tahu.”
Suatu
hari seorang Yahudi datang kepada Nabi Muhammad, sedangkan beliau berada di
tengah-tengah para Sahabat. Yahudi itu bernama Zaid bin Su’nah. Dia datang
menagih hutang, lalu mencengkram kerah Rasulullah dan selendangnya. Dia
menatapnya dengan tajam dan kasar, “Wahai Muhammad, apakah kamu tidak mau
membayar hakku?” Umar marah dan matanya seperti bola api. Umar pun berkata
dengan sengit, “Wahai musuh Allah, kamu berkata begitu kepada Rasulullah dan
memperlakukannya seperti yang kulihat ini. Demi Dia yang mengutus beliau dengan
kebenaran, seandainya Rasulullah tidak melarangku, niscaya kupenggal kepalamu
dengan pedang ini.”
Nabi
Muhammad kemudian memandang Umar dengan tenang dan berkata, “Wahai Umar, aku
dan dia perlu yang lebih dari ini, yaitu kau menyuruhku menepati pembayaran dan
kau menyuruhnya menagih dengan baik. Pergilah wahai Umar dan cukupilah
(bayarlah) haknya dan tambahkanlah kepadanya 20 sha’ kurma.”
Ketika
tahu bahwa Umar melebihinya 20 sha’, orang Yahudi itu berkata, “Untuk apa
tambahan ini wahai Umar?” Umar menjawab, “Aku diperintahkan oleh Rasulullah
untuk menambahkannya kepadamu karena kecongkakanmu.” Lalu orang Yahudi itu
berkata, “Apakah kamu mengenalku?” “Tidak. Siapa kamu?”, tanya Umar. “Aku Zaid
bin Su’nah.” Umar tercengang, “Pendeta Yahudi?! Apa yang membuatmu berbuat
seperti ini?” Zaid menjawab, “Wahai Umar, aku memang sengaja berbuat begini
untuk mengetahui kenabiannya. Aku melihat dua hal, lalu aku tahu bahwa dia
benar-benar seorang nabi. Pertama, beliau mengedepankan sifat hilm-nya dari yang lain. Kedua, semakin
aku kasar, beliau semakin sabar dan meladeni. Dan sekarang wahai Umar,
saksikanlah bahwa aku rela Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agamaku, dan
Muhammad adalah nabi! Dan aku akan memberi separuh hartaku untuk kepentingan
umat Islam.” Umar berkata, “Kepada sebagian umat, karena kalau untuk seluruh
umat Islam tidak mencukupi.” Lalu Zaid menemui Rasulullah dan mengucapkan dua
kalimat syahadat. (H.R. Bukhari)
Inilah
sifat-sifat beliau yang penuh dengan kesabaran, kerendahan hati, mengalah, dan
bersahabat. Dalam sebuah hadits, Aisyah meriwayatkan, “Aku berumrah bersama
Rasulullah dari Madinah ke Mekkah. Ketika sampai di Mekkah, aku berkata,
‘Dengan bapak ibuku sebagai tebusan wahai Rasulullah, aku menggabungkan
shalatku dan menyempurnakannya, aku berbuka dan aku puasa.’ Rasulullah hanya
mengomentari, ‘Bagus, kalau begitu.’ Dan tidak melarang atau menegurku.” (H.R. Nasa’i).
Do’a
adalah ibadah yang sangat agung yang tidak boleh ditujukan kepada selain Allah
subhanahu wa ta’ala. Berdo’a adalah cermin dari rasa tunduk dan rendah diri
serta ketidakberdayaan dan melepaskan diri dari rasa memiliki dan berkuasa.
Berdo’a merupakan simbol penghambaan, sarana untuk merasakan kerendahan diri
kita sebagai manusia yang lemah dan tidak ada daya apapun di hadapan Allah. Di
dalam do’a, ada pujian kepada Allah, ada permohonan yang tulus dari lubuk hati
yang terdalam, dan ada perasaan yang terfokus pada kemurahan Allah subhanahu wa
ta’ala. Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda “do’a adalah inti
dari suatu ibadah.” (H.R. Tirmidzi)
Dalam
setiap kesempatan, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam senantiasa
bermunajat dengan do’a dan ber-tadarru
(merasa rendah di hadapan Allah), serta menampakkan ketergantungan kepada
Allah. Hal ini terutama dilakukan oleh beliau pada waktu-waktu yang mustajab
(waktu dimana suatu do’a dikabulkan) seperti di tengah malam pada saat shalat
tahajjud, pada hari Arafah, di multazam, dan sebagainya.
Di
antara do’a-do’a yang beliau panjatkan adalah,
“Ya Allah, perbaikilah oleh-Mu urusan agamaku
karena ia adalah kendali segala urusanku. Perbaikilah urusan duniaku karena
ialah tempat penghidupanku. Perbaikilah urusan akhiratku karena ialah tempat
kembaliku yang abadi. Jadikanlah kehidupanku sebagai tambahan bagiku untuk
memperoleh segala kebaikan. Dan jadikanlah kematian sebagai akhir dari segala
keburukan.” (H.R. Muslim)
Beliau
juga sering berdo’a setiap pagi dan sore,
“Ya Allah, Dzat yang mengetahui segala
sesuatu yang ghaib dan yang tampak, yang menciptakan langit dan bumi, pemilik
dan raja segala sesuatu, aku bersaksi tiada tuhan selain Engkau. Aku berlindung
kepadamu dari kejahatan diri dan nafsuku dan dari kejahatan setan dan
sekutunya, dan dari perbuatan jelek atau yang menyebabkan kejelekan kepada
sesama Mulim.” (H.R. Abu Daud)
Di
antara do’a beliau,
“Ya Allah, cukupkanlah aku dengan rezeki-Mu
yang halal dari yang haram. Dan jadikanlah aku kaya hanya dengan karunia-Mu,
tidak dari yang lain.” (H.R.
Tirmidzi)
Begitu
juga do’a beliau yang menyentuh saat akan dipanggil menghadap-Nya,
“Ya Allah, ampunilah kau, dan kasihanilah
aku, serta tempatkanlah aku di sisi-Mu.” (Muttafaq ‘alaih)
Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wassalam banyak memanjatkan do’a kepada Allah di setiap
kesempatan dan kondisi yang berbeda. Di waktu senang, susah, dan perang. Bahkan
dalam perang Badar, ketika melihat kekuatan musuh yang demikian besarnya,
beliau shalallahu ‘alaihi wassalam berdo’a lama sekali di dalam tendanya,
sampai-sampai selendang beliau jatuh dari bahunya. Hal ini beliau lakukan untuk
memohon pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala agar kemenangan dapat diraih oleh
pasukan Muslim. Dan Allah pun mengabulkan do’a yang beliau panjatkan dengan
mengirimkan pasukan-pasukan malaikat yang turun dari langit sehingga umat
Muslim memenangkan perang Badar. Rasulullah berdo’a tidak hanya untuk dirinya sendiri,
melainkan juga untuk keluarganya, sahabatnya, serta seluruh umat Muslim
dimanapun mereka berada.
Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wassalam adalah seorang pribadi yang memiliki akhlaq mulia.
Beliau senantiasa membela kehormatan orang lain dan tidak menyukai apabila ada
yang melanggar hak orang lain. Beliau juga seringkali berkumpul bersama para sahabat
di majelis taklim dan dzikir. Hal ini dikarenakan majelis taklim dan dzikir
adalah tempat berkumpul yang paling mulia. Bahkan para malaikat pun ikut
berkumpul di majelis-majelis dimana umat manusia mengagungkan dan mengingat
Allah subhanahu wa ta’ala. Di majelis itu beliau seringkali memberikan
petunjuk, pengajaran, dan nasihat-nasihat yang berharga kepada para sahabat. Para
sahabat yang hadir disana mendengarkan beliau dengan penuh antusias karena
butiran-butiran nasihat yang beliau sampaikan adalah sesuatu yang sangat
berharga dan penuh dengan manfaat. Dalam majelis itu beliau meluruskan
kesalahan, mengingatkan yang lupa, dan memberikan segala petunjuk kebaikan.
Dalam majelis itu beliau shalallahu ‘alaihi wassalam melarang gosip, bergunjing,
dan adu domba. Beliau tidak rela bila ada seseorang yang menceritakan aib orang
lain.
Ada
sebuah kejadian yang diriwayatkan oleh Utbah bin Malik, “Rasulullah berdiri untuk
shalat kemudian berkata, ‘Dimana Malik Ibnu Dakhsyam?’ Seseorang menjawab, ‘Dia
adalah munafik yang tidak suka kepada Allah dan rasul-Nya.’ Kemudian Rasulullah
berkata, ‘Jangan begitu, bukankah dia telah mengatakan tiada tuhan selain Allah
dengan mengharapkan ridha Allah? Sesungguhnya, Allah mengharamkan masuk neraka
bagi orang yang mengatakan laa ilaaha
illa Allah untuk meraih keridhaan Allah.’ (Muttafaq ‘alaih). Beliau
mengulanginya sampai tiga kali.
Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wassalam memperingatkan agar kita jangan sampai memberikan
kesaksian palsu dan berbuat dzalim terhadap hak orang lain. Kita harus berusaha
semaksimal mungkin untuk memenuhi kewajiban kita dan memenuhi hak orang lain,
di antaranya dengan menepati janji, berbakti kepada kedua orang tua, dan menghargai
orang lain. Diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq bahwa Nabi Muhammad
bersabda, “Maukah kalian kuberitahu tentang dosa yang paling besar?” Kami
mengiyakan, lalu beliau berkata, “Yaitu menyekutukan Allah dan durhaka kepada
orangtua.” Waktu itu beliau sedang bersandar ke dinding lalu duduk dan berkata,
“Ingatlah juga, kesaksian palsu (berdusta).” Beliau terus-menerus mengulanginya
sampai kami berkata, “Mudah-mudahan beliau diam.” (Muttafaq ‘alaih)
Walaupun
beliau shalallahu ‘alaihi wassalam sangat mencintai istrinya, namun beliau
tetap tidak rela apabila ada di antara mereka yang bergunjing atau bergosip.
Aisyah meriwayatkan, “Aku berkata kepada Rasulullah, ‘Cukuplah bagimu tentang
Shafiyah begini dan begitu...’” Sebagian perawi menjelaskan bahwa Aisyah
mengatakan Shafiyah adalah orang yang bertubuh pendek. Lalu Rasulullah
bersabda, “Kamu telah mengatakan suatu kalimat yang seandainya bisa dicampur
dengan air laut, maka akan kucampur.” (H.R.
Abu Daud)
Rasulullah
juga memberi kabar gembira kepada orang yang membela kehormatan orang lain
melalui sabdanya, “Barangsiapa yang membela saudaranya yang sedang
digunjingkan, maka orang itu berhak untuk dibebaskan oleh Allah dari neraka.”
Saya menyarankan agar para membaca juga melihat artikel-artikel lainnya tentang Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wassalam. Hal ini dimaksudkan agar kita lebih mengenal pribadi beliau sehingga tumbuhlah rasa cinta kepada beliau. Silahkan klik artikel-artikel berikut ini untuk mengenal Nabi Muhammad lebih jauh:
Ada
suatu hal yang tidak pernah bisa dipisahkan antara Nabi Muhammad shalallahu
‘alahi wassalam dengan tersambungnya hati beliau dengan Allah. Hal ini beliau
lakukan melalui dzikir. Beliau shalallahu ‘alaihi wassalam adalah seorang nabi
yang tidak pernah membuat waktu terbuang begitu saja tanpa mengingat Allah,
memuji, bersyukur, dan memohon ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Padahal
kita tahu bahwa beliau sudah diampuni segala dosa dan kesalahannya oleh allah
subhanahu wa ta’ala. Bahkan beliau dijanjikan akan mendapatkan derajat yang
tertinggi di surga kelak. Namun tetap saja Rasulullah shalallahu ‘alaihi
wassalam selalu menjadi hamba yang senantiasa memohon ampunan kepada Rabb-Nya.
Beliau adalah contoh keteladanan dengan akhlaq yang terpuji, yang senantiasa
mensyukuri nikmat dan karunia dari Allah yang diberikan kepadanya dan keluarganya.
Beliau adalah seorang rasul yang tahu bagaimana caranya menghargai waktu dan
senantiasa mengisinya dengan ibadah-ibadah baik itu dengan dzikir, shalat,
puasa, bersedekah, dan lain-lain.
Bahkan
dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Rasulullah senantiasa bangun di malam hari
untuk melaksanakan shalat qiyamul lail, sampai-sampai kaki beliau bengkak
karena beliau berdiri begitu lama dalam shalatnya. Dalam shalatnya, beliau
seringkali menangis karena hatinya bergetar mengingat Allah. Beliau menyadari
posisinya sebagai seorang hamba Allah dan menyadari bahwa ada tanggung jawab
yang harus dipikul sebagai seorang nabi. Seringkali Rasulullah berduka karena
memikirkan keadaan kaumnya dan umatnya. Rasulullah ingin agar umat manusia
berada di jalan yang lurus, yaitu berada dalam agama Islam yang telah diridhai
oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Karena itulah seringkali beliau bermunajat
kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar umat manusia patuh kepada perintah Allah
dan menjauhi segala yang dilarang-Nya. Aisyah radiyallahu ‘anha pernah berkata,
“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam
selalu mengingat dan menyebut nama Allah di setiap waktu.” (H.R. Muslim)
Diriwayatkan
dari Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhu bahwasanya, “Kami menghitung istighfar
Rasulullah dalam satu majelis adalah sebanyak seratus kali. Belliau selalu
beristighfar, “Tuhanku ampunilah aku dan
terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang.”
(H.R. Abu Daud)
Dikatakan
oleh Abu Hurairah, “Aku pernah mendengar Rasulullah shalallahu ‘alahi wassala
bersabda, “Demi Allah, aku mohon ampun
dan bertaubat lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.” (H.R. Bukhari)
Ummu
Salamah meriwayatkan betapa seringnya Rasulullah berdo’a ketika bersamanya. Do’a
beliau adalah sebagai berikut, “Ya Allah,
Dzat yang membolak-balikkan hati. Tetapkanlah hatiku pada agama-Mu.” (H.R. Tirmidzi)
Masya
Allah. Begitu mengangumkannya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Bayangkan
dan renungkanlah! Seorang nabi paling mulia, manusia paling sempurna di muka
bumi ini, dimana dirinya sudah dijamin masuk surga oleh Allah subhanahu wa
ta’ala, namun beliau tetap senantiasa beristighfar kepada Allah. Lalu bagaimana
dengan kita? Seberapa seringkah kita beristighfar kepada Allah? Semoga kita
juga bisa meneladani dan mencontoh apa yang beliau lakukan, yaitu senantiasa
beristighfar kepada Allah subhanahu wa ta’ala.