Diriwayatkan dari Sahl bin Handzalah RA, beliau berkata:
Rasulullah bersabda yang artinya: "Siapa yang mengemis padahal dia memiliki sesuatu yang cukup baginya, sesungguhnya dia hanya memperbanyak neraka jahannam".
Para sahabat bertanya:" Kecukupan yang bagaimanakah yang tidak
membolehkan untuk mengemis ?" Rasulullah menjawab:"Yaitu yang cukup
untuk makan siang dan malamnya. (HR. Abu Dawud)
Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud RA, beliau berkata : "Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang meminta-minta
padahal ia memiliki apa yang mencukupinya, niscaya ia datang pada hari
kiamat dalam wajahnya robek". (HR.Ahmad)
Jadi wajah yang disobek pada hari kiamat adalah wajah orang yang
meminta-minta padahal ia memiliki apa yang mencukupinya. Perhatikan
sabda Rasulullah berikut:
Dari Hakîm bin Hizâm Radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.
Dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu. Dan sebaik-sebaik
sedekah adalah yang dikeluarkan dari orang yang tidak membutuhkannya.
Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya maka Allâh akan menjaganya dan
barangsiapa yang merasa cukup maka Allâh akan memberikan kecukupan
kepadanya.”
Hadist Riwayat Abu Daud dari Syirrid bin Suwaid radhiyallahu ‘anhu
berkata bahwa Rasulullah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda yang artinya:
“Rasulullah pernah melintas di hadapanku sedang aku duduk seperti ini,
yaitu bersandar pada tangan kiriku yang aku letakkan di belakang. Lalu
baginda Nabi bersabda, “Adakah engkau duduk sebagaimana duduknya
orang-orang yang dimurkai?” (HR. Abu Daud).“Makruh dapat dimaknakan juga haram. Dan kadang makruh juga berarti
makruh tanzih (tidak sampai haram). Akan tetapi dalam hadits disifati
duduk semacam ini adalah duduk orang yang dimurkai, maka ini sudah jelas
menunjukkan haramnya.” (Syarh Sunan Abi Daud, 28: 49)
Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin berkata bahwa duduk yang
dimurkai Allah sebagaimana yang dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam adalah dengan menjadikan tangan kiri sebagai tumpuhan tubuh.
Tidak mengapa jika meletakkan kedua tangan sebagai tumpuan, atau tangan
kanan sebagai tumpuan.
Gambar dibawah ini adalah posisi duduk yang dimurkai Allah 'Azza wa Jalla.
Sebagian ulama mengatakan makhruh hukumnya duduk seperti ini. Sementara
Syaikh ‘Abdul al-‘Abbad mengatakan bahwa haram hukumnya duduk dengan
bersandar pada tangan kiri yang diletakkan dibelakang.
Sehebat apapun seorang muadzhin setan tidak akan takut sama seorang
muadzhin, tetapi setan akan takut sama seorang muadzhin ketika dia
adzan. sampai-sampai setan lari ketakutan ketempat yang tak terdengar
adzhan dengan terkentut-kentut.Karena apa? karena adzan itu adalah DAKWAH.Padahal sama antara takbirnya
seorang muadzhin dengan takbirnya seorang yang sedang sholat, tetapi
ketika takbir adzhan maka setan semuanya kabur ketakutan namun ketika
takbir dalam sholat justru setan semua mendekat.Karena apa? karena adzan
adalah DAKWAH, sedangkan sholat adalah ibadah.
Ahli ibadah takkan di takuti oleh setan bahkan setan mampu menyesatkan
ahli ibadah yang tak BERDAKWAH seperti kepada Ulama Barshisha atau
kepada Bal'am bin Bauro.Tetapi ahli dakwah setan bahkan takut ke tempat
dimana disitu ada bekas telapak kakinya seorang DA'I Setan tak berani
datang kesana selama 40 hari, seperti halnya kepada sayyidina Umar r.a,
karena sayyidina Umar ini adalah ahli dakwah.Ahli Dakwah sudah pasti
ahli ibadah, tetapi ahli ibadah belum pasti ahli dakwah.
Ya Allah... hamba menyadari betapa nestapanya hamba tanpa ketundukan dan ketaatan kepada dirimu, ketika dunia mengecewakan hamba sungguh itu tidak akan membuat hamba khawatir, mengapa? karena hamba memilikimu. akan tetapi ketika hamba tidak memilikimu Wallahi maka duniapun tidak akan membahagiakan hamba sedikitpun.
Ya Allah... betapa sulitnya hamba mejauh darimu walau berbagai dosa dan keingkaran selalu hamba lakukan di hadapanmu tanpa rasa malu dan bersalah akan tetapi engkaupun selalu kembali mengetuk hati hamba-Mu ini ya Rabb. hamba percaya engkau tidak akan pernah membenci atau bahkan menghukum hamba-Mu selama engkau masih memberikan hamba-Mu kesempatan untuk memperbaiki diri selama di dunia ini.
Ya Allah... ya Karim ya Tuhanku yang maha Pengasih dan Penyayang yang maha Raja dari sang Raja yang maha Tinggi dari yang tertinggi yang maha Pengampun bagi hamba-hamba-Nya yang maha Pencipta semesta alam dan seluruh mahluk ciptaan-Nya yang maha Mengasihi.
Ya Allah... betapa malu hamba memohon ampun kepada engkau akan dosa yang berulang selalu hamba lakukan dengan kesengajaan ataupun tidak, akan tetapi hamba menyedari bahwa tiada Tuhan kecuali engkau yang patut hamba minta ampunan, engkaulah satu satunya Tuhan Alam semesta engkau Allah yang maha Esa, karna Ar-Rahman berada pada genggaman-Mu maka sesungguhnya seluruh hamba hamba-Mu di selubung bumi dan langit memohon ampunan dan tunduk kepada-Mu ya Rabb.
Ya Allah... betapa sedihnya hamba menyadari bahwa terlalu banyak hamba melupakan-Mu ya Rabb, betapa banyak hamba membangkang akan perintahmu. ya Allah apa yang sudah hamba lakukan kepada-Mu? apa yang sudah hamba pikirkan ketika hamba membangkang tanpa rasa takut? ya Allah apa yang sudah hamba lakukan? apa ya Allah? sehingga dengan berani hamba meninggalkan Shalat, hamba telah berani meninggalkan Shalat ketika engkau memberi begitu banyak nikmat dan karunia. apa yang sudah hamba lakukan ya Rabb? sehingga hamba berani untuk menentang-Mu dan memilih hawa nafsu dunia ini. apa yang sudah hamba lakukan ya Rabb? sehingga hamba berani mengikuti godaan syetan yang nyata sehingga hamba berani meninggalkan amalan amalan baik yang seharusnya hamba lakukan. Astagfirullah ya Allah betapa hina dan keji-Nya hamba-Mu ini. sehingga pondasi iman yang seharusnya hamba jaga malah hamba runtuhkan dengan mengikuti hawa nafsu dunia. seperti bagunan yang sudah tinggi dan kokoh dan kini telah hancur bahkan pondasi yang seharusnya kuat untuk menopang seluruh bagunan kini telah hancur tak tersisa. apa pondasi itu? SHALAT. hamba telah berani untuk main main dalam Shalat hamba, hamba telah berani untuk tidak Khusyu bahkan hamba telah berani untuk meninggalkan Shalat hamba 1 per 1 Astagfirullah ya Allah hamba tidak ingin seperti ini, ketika hamba meninggalkan Shalat maka sesungguhnya hamba tidak mendapatkan apapun dari dunia ini. ketika hamba ingkar dan memilih hawa nafsu hamba sesungguhnya hamba tidak mendapatkan kebahagiaan dan kepuasaan apapun dari dunia ini. Wallahi ya Rabb engkau telah dapat melihat bagimana dalam hitamnya hati hamba, masih ada ya Rabb, masih ada walau hanya setitik tetesan darah, masih ada walau hanya segaris urat nadi, masih ada ya Rabb, masih ada Rasa Cinta dan Ketaatan hamba kepada engkau, walau hanya setitik mungkin hanya itu yang dapat hamba persembahkan kepada-Mu.
Ya Allah... Dunia ini begitu kejam sehingga ia mampu memisahkan engkau dan hamba, dunia ini begitu licik sehingga ia mampu memutar balikan hati hamba untuk berpaling dari-Mu, dunia ini begitu kotor dan hitam sehingga hamba tidak mampu melihat dengan jelas nikmat dan karunia yang telah engkau limpahkan kepada hamba-Mu ini ya Rabb, dunia ini begitu penuh dengan fitnah dan kekejian sehingga hamba berani membangkang dari perintah-Mu ya Rabb. Ampunilah hamba yang keji dan kotor ini ya Allah, maafkan hamba atas segala ketidak sempurnaan Shalat hamba amal kebaikan hamba. Cacat..!!! penuh kecacatan ya Allah hamba yang penuh dengan kecacatan. hati? pikiran? penglihatan? pendengaran? lisan? tangan? kaki? dan NIAT?.
semua penuh dengan kecacatan? kecacatan dalam beramal baik, kecacatan dalam melakukan kesempatan untuk dapat membahagiakan engkau ya Rabb. hamba telah gagal untuk dapat membahagiakan engkau, hamba telah gagal untuk dapat membuat engkau tersenyum kepada hamba. ya Allah telah banyak nikmat yang sudah hamba dustakan, telah banyak karunia dan segala kebahagiaan yang telah hamba dustakan.
Ya Allah... terkadang hamba ingin menangis sekuat ketika engkau mengenggam hamba, hamba ingin menangis sekuat itu, sehingga hamba bisa menyadari betapa hamba ingin kembali kepadamu ya Rabb, walau hamba tau air mata ini tidak akan sanggup membayar seluruh kesalahan dan dosa dosa hamba.
sakit ya Rabb... sakit, hati hamba selalu merasakan kesakitan dan kegetiran ketika hamba mulai menjauh dari engkau. sungguh dunia dan seisinya tidak dapat membuat hamba aman dan tentram, hamba tidak bisa membuat dunia ini menjadi sandaran hamba ya Rabb, hamba tidak bisa membuat dunia ini mejadi penenang hamba, karna sesungguhnya hamba menyadari engkaulah kekuatan dan sandaran hamba ya Rabb. kini hamba dapat merasakan turunnya ketaqwaan hamba kepada-Mu dan naiknya Ketaqwaan dan keimanan hamba kepada-Mu, kini hamba dapat merasakan betapa nestapa dan menderitanya hamba kehilangan-Mu, kini hamba dapat merasakan bagaimana hamba tidak dapat menangis karna-Mu ya Rabb, kini hamba dapat merasakan betapa hamba sangat membutuhkan-Mu dan akan selalu membutuhkan-Mu dalam kesukaan maupun kedukaan hamba, kini hamba dapat merasakan sakitnya kehilangan-Mu ya Rabb, kehilangan-Mu bukan karna engkau menjauh dari hamba akan tetapi kehilangan-Mu karna kecerobohan hamba dalam mencintaimu, kebodohan hamba dalam memilih menjauh dan meninggalkan-Mu ya Rabb.
Engkau segalanya, Engkau selalu menjadi yang pertama dan terkahir, Engkau akan selalu berdiri sendiri, Engkau akan selalu menjadi yang Menciptakan dan tanpa di ciptakan, Engkau yang selalu menjadi Allah sang Maha Raja sang Maha pemilik Kursi dan Arasy.
Ya Allah... kini hamba menyadari dalam kehidupan ini begitu banyak fitnah yang bertebaran begitu banyak godaan keduniaan yang membuat hati luntur untuk mencintai-Mu ya Rabb
Ya Allah... ya Rabb... kebingungan dan kekhawatiran akan selalu ada dalam hati dan fikiran hamba, ketika hamba tidak memikirkan engkau maka hamba akan mulai memikirkan segalanya di dalam dunia ini. hamba mulai memikirkan bahkan menginginkan seorang pria non Muslim yang sebenarnya tidak layak bagi hamba kecuali atas izin engkau, apa yang sudah apa fikirkan ya Rabb... ketika hamba mengiginkan seorang pria yang bahkan bukan hanya tidak mencintai-Mu akan tetapi tidak percaya bahwa Engkau 1 Tuhan yang Esa, ia tidak mengerti bagaimana untuk bersujud kepada engkau bahkan ia tidak percaya dengan Kekasih-Mu Baginda Muhammad SAW, bagaimana hamba bisa mengiginkan seorang pria yang tidak mencintai-Mu ya Rabb? Astagfirullah Maafkan hamba-Mu ini ya Rabb. sesungguhnya hamba memohon perlindungan dari hawa nafsu dunia ini, hamba memohon perlindungan dari fitnah akhir zaman ini, hamba memohon perlindungan dari segala macam fitnah di dunia ini ya Rabb karna hanya kepada-Mu lah hamba memohon naungan perlindungan.
Artikel ini bertujuan agar kita sederhana dalam beribadah, karena
jalan kebaikan sangat banyak. Hendaknya kita melakukan dengan seimbang,
yaitu tidak berlebih-lebihan dan meremehkan, karena yang dituntut dari
manusia dalam segala hal adalah proporsional. Oleh karena itu, jangan
membebani diri sendiri dengan sesuatu yang tidak mampu dilakukan. Sebab,
inilah agama kita, yaitu agama yang penuh toleransi dan kemudahan. Dalil al-Qur’an berlaku sederhana dalam beribadah: “Kami tidak menurunkan al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah.” (QS. 20: 2) “… Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…” (QS. 2: 185) Dalil hadist berlaku sederhana dalam beribadah Hadist pertama: Dari Aisyah radhiyallahu anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam memasuki rumahnya dan di sisi Aisyah itu ada seorang wanita.
Beliau bertanya, “siapakah dia?” Aisyah menjawab, “Ini adalah si fulanah
yang terkenal shalatnya.” Beliau bersabda, “Jangan demikian, hendaklah
engkau beramal sesuai kemampuanmu. Demi Allah, Allah itu tidak bosan
untuk menerima amalmu hingga kamu sendiri yang akan merasa bosan.
Sesungguhnya amalan yang paling disukai Allah adalah yang dikerjakan
terus-menerus.” (Muttafaqun ‘alaihi. HR. Bukhari: 43 dan Muslim: 485) Penjelasan hadist: Salah satu pelajaran hadist ini adalah
bahwa tidak seharusnya seseorang berlebih-lebihan dalam ketaatan dan
amalan, sehingga jika ia melakukannya terus dapat menimbulkan kebosanan
kemudian ia meninggalkannya. Sesungguhnya amalan yang dicintai Allah
adalah amalan yang terus-menerus dilakukan (walaupun sedikit). Hadist kedua: Anas radhiyallahu anhu berkata, “Ada tiga orang datang ke rumah
istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menanyakan tentang ibadah
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah mereka diberitahu, mereka
dianggap seakan-akan ibadah mereka sedikit sekali. Lalu mereka berkata,
‘Di manakah ibadah kita dibanding ibadah nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam? Padahal beliau telah diampuni semua dosanya, baik yang telah
lalu maupun yang akan datang.’ Salah seorang diantara mereka berkata, ‘Saya selamanya akan shalat
sepanjang malam.’ Orang yang lain berkata, ‘Saya akan berpuasa sunnah
sepanjang setahun dan tidak akan pernah berbuka selamanya.’ Seorang yang
lain berkata, “Adapun saya, maka saya akan menjauhkan diri dari para
wanita. Saya tidak akan menikah selamanya.’ Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam kemudian mendatangi mereka lalu bersabda, ‘Kaliankah
yang mengatakan begini dan begitu? Demi Allah, sesungguhnya aku adalah
orang yang paling takwa dan takut di antara kalian kepada Allah. Namun,
aku juga berpuasa dan berbuka, aku pun shalat dan tidur, aku juga
menikahi wanita. Maka barangsiapa yang benci terhadap sunnahku, maka ia
bukan termasuk golonganku’.” (Muttafaqun ‘alaihi. HR. Bukhari: 5063 dan
Muslim: 1401) Penjelasan hadist: Hadist ini sebagai dalil bahwa setiap
manusia harus seimbang dalam hal apapun termasuk ibadah. Karena jika ia
berlebihan dalam beribadah, maka ia akan merasa lemah dan bosan. Oleh
karena itu, setiap manusia harus seimbang dalam setiap amalannya. Hadist ketiga: Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Binasalah orang-orang yang keterlaluan.” Beliau
mengulanginya sampai tiga kali. (HR. Muslim: 7/2670) Penjelasan hadist: Jika seseorang bersikap berlebih-lebihan
serta ketat dalam perkara yang telah diberikan keluasan oleh Allah, maka
Allah akan bersikap ketat padanya. Hadist keempat: Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Sesungguhnya agama itu mudah, dan barang siapa saja
yang mempersulit agama maka ia akan kalah. Maka dari itu, bersikap
luruslah engkau semua, lakukanlah yang sedang-sedang saja, dekatkanlah
dirimu, bergembiralah kalian serta memohon pertolongan dalam melakukan
perbuatan tersebut, baik waktu pagi, sore, maupun sedikit dari waktu
malam.” (HR. Bukhari: 39) Dalam riwayat Imam Bukhari lainnya disebutkan, “Berlaku luruslah,
lakukanlah yang sederhana, dekatkanlah dirimu, dan pergunakan waktu
pagi, sore, serta sebagian di waktu malam. Berbuatlah sederhana, niscaya
engkau semua akan sampai pada tujuannya.” Penjelasan hadist: Seorang muslim harus berusaha semaksimal
mungkin untuk memberikan kemudahan kepada saudara-saudaranya. Ia juga
harus bersikap hikmah (bijaksana), tapi tetap memperhatikan sisi
kemanusian. sehingga saudaramu merasa bahagia kemudian ia mau bertaubat
dan kembali kepada Allah. Kita juga tidak diwajibkan untuk menghabiskan
semua waktu dalam ibadah, karena hal itu akan memberikan dampak
kebosanan, merasa sulit tidur, lelah, dan pada akhirnya ia (bisa jadi)
akan meninggalkannya. Hadist kelima: Anas radhiyallahu anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
masuk ke dalam masjid dan beliau melihat tali yang dibentangkan antara
dua tiang. Lantas beliau bertanya, ‘Tali apakah ini?’ Para sahabat
menjawab, ‘Ini adalah kepunyaan Zainab. Ia mempergunakan tali ini
sebagai pegangan bila terasa lelah dalam shalatnya.’ Nabi bersabda,
‘Lepaskanlah tali itu. Hendaklah salah seorang dari kalian melakukan
shalat pada waktu ia sedang semangat. Dan jika ia sedang mengantuk,
hendaklah ia tidur’.” Penjelasan hadist: Tidak layak bagi seseorang untuk terlalu
berlebihan dan bersikap ketat dalam beribadah serta membebani dirinya
dengan sesuatu yang tidak mampu dilakukannya. Hadist keenam: Dari Aisyah radhiyallahu anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian mengantuk dalam
shalatnya, hendaklah ia tidur terlebih dahulu hingga hilang kantuknya.
Karena, jika salah seorang di antara kalian shalat, sedangkan ia dalam
keadaan mengantuk, ia tidak akan tahu, mungkin ia bermaksud meminta
ampun tetapi ternyata ia malah mencela dirinya sendiri.” (Muttafaqun
‘alaih. HR. Bukhari: 212 dan Muslim: 786) Penjelasan hadist: Salah satu faedah hadist ini adalah bahwa
setiap anggota tubuh dalam diri manusia memiliki hak. Ketika ia memaksa
dirinya untuk melaksanakan ibadah padahal ia merasa kesulitan, berarti
ia sudah menzalimi dirinya sendiri. Hadist ketujuh: Abu Abdillah Jabir bin Samurah radhiyallahu anhu berkata, “saya
pernah shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beberapa
shalat. Keadaan shalat dan khutbah beliau sedang, tidak terlalu lama dan
tidak terlalu sebentar.” (HR. Muslim: 866) Penjelasan hadist: Hadist ini memberitahukan kepada kita
bahwa setiap orang tidak boleh membuat dirinya merasa kesulitan dalam
melaksanakan ibadah. Ia hanya boleh melaksanakan ibadah sesuai dengan
kemampuannya. Hadist kedelapan: Abu Abdillah Jabir bin Samurah radhiyallahu anhu berkata, “Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan antara Salman dan Abu
Darda’. Tatkala Salman berkunjung ke rumah Abu Darda’, ia melihat Ummu
Darda’ (istri Abu Darda’) mengenakan pakaian yang serba kusut. Salman
pun bertanya padanya, ‘Mengapa keadaan kamu seperti ini?’ Wanita itu
menjawab, ‘Saudaramu Abu Darda’ sudah tidak mempunyai hajat lagi pada
keduniaan.’ Kemudian Abu Darda’ datang, dan ia membuatkan makanan untuk Salman.
Setelah selesai, Abu Darda’ berkata kepada Salman, ‘Makanlah, karena
saya sedang berpuasa.’ Salman menjawab, ‘Saya tidak akan makan, sebelum
engkau pun makan.’ Maka Abu Darda’ pun makan. Pada malam harinya, Abu
Darda’ bangun untuk mengerjakan shalat malam. Salman pun berkata
kepadanya, ‘Tidurlah.’ Abu Darda’ pun tidur kembali. Ketika Abu Darda’ bangung hendak mengerjakan shalat malam, Salman
lagi berkata kepadanya, ‘Tidurlah!’ Hingga pada akhir malam, Salman
berkata, ‘Bangunlah.’ Lalu mereka shalat bersama-sama. Setelah itu,
Salman berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu
ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing
hak tersebut.’ Kemudian Abu Darda’ mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi. Beliau lantas bersabda,
‘Salman benar’.”Hadist kesembilan: Abu Muhammad Abdullah bin Al-‘Ash radhiyallahu anhu berkata, “Abu
Muhammad Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu anhu meriwayatkan, ‘Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam diberitahu tentang ucapanku, yaitu: demi
Allah, sungguh saya akan selalu berpuasa pada siang hari dan bangun
sepanjang malam untuk mengerjakan shalat selama saya hidup.’ Kemudian
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Kamukah yang
mengucapkan ucapan seperti itu?’ Kemudian saya menjawab, ‘Benar, saya
mengatakannya wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya kamu
tidak akan sanggup berbuat demikian. Maka berpuasalah dan berbukalah,
tidur dan bangunlah untuk shalat, serta berpuasalah tiga hari dalam
setiap bulan karena pahalanya dilipatgandakan sepuluh kali. Jadi, jika
setiap bulan kamu berpuasa tiga hari, maka itu seperti berpuasa
sepanjang masa.’ Ia berkata, ‘Saya masih kuat beramal yang lebih dari itu.’ Beliau
menjawab, ‘(Kalau begitu) berpuasalah satu hari dan berbukalah dua
hari.’ Ia berkata, ‘Saya masih kuat beramal yang lebih utama dari itu.’
Beliau bersabda, ‘Kalau begitu, berpuasalah sehari dan berbukalah sehari
juga. Demikian itu adalah puasanya Nabi Dawud ‘alaihissalam dan inilah
puasa yang paling sedang.’ Dalam riwayat lain disebutkan, ‘Demikian itu
adalah puasa yang paling utama.’ Saya berkata, ‘Saya masih kuat beramal
yang lebih utama dari itu.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, ‘Sungguh tidak ada puasa melebihi keutamaan puasa Nabi Dawud.’
Sebenarnya seandainya dulu saya menerima anjuran yang disabdakan oleh
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk puasa tiga hari setiap
bulannya, maka hal itu lebih aku cintai daripada keluargaku dan
hartaku.” Dalam riwayat lain dikatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Saya pernah mendengar bahwa kamu berpuasa sepanjang
hari dan bangung sepanjang malam untuk shalat malam?” Saya menjawab,
“Benar, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Janganlah berbuat demikian.
Berpuasalah dan berbukalah, tidur dan bangunlah untuk mengerjakan
shalat. Karena, sesungguhnya tubuhmu ada hak atas dirimu, kedua matamu
pun ada hak atas dirimu, istrimu juga ada hak atas dirimu, dan tamumu
pun mempunyai hak atas dirimu. Cukuplah kamu berpuasa tiga hari dalam
setiap bulan, karena setiap satu kebaikan itu diberi balasan sepuluh
kali lipat. Dan jika kamu berpuasa tiga hari setiap bulannya berarti
kamu seperti berpuasa sepanjang masa.”
Maka saya memperberatnya sehingga aku diperberat. Saya bertanya,
“Wahai Rasulullah, saya merasa masih kuat, Nabi menjawab, “Berpuasalah
seperti puasanya Nabi Dawud. Jangan lebih dari itu.” Saya bertanya,
“Bagaimana puasanya Nabi Dawud?” Beliau menjawab, “Setengah masa.”
Ketika Abdullah sudah tua, ia berkata, “Ah, seandainya dahulu saya
menerima keringanan yang diberikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Sesungguhnya untuk anakmu pun ada hak atas dirimu.” Dalam riwayat lain juga disebutkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Tidak dibenarkan seseorang yang berpuasa terus
sepanjang tahun.” Beliau mengulanginya sampai tiga kali. Selain itu
dalam riwayat lain disebutkan, “Puasa yang paling disukai Allah adalah
puasanya Nabi Dawud, shalat yang paling disukai Allah adalah cara shalat
Nabi Dawud. Yaitu, beliau tidur sampai tengah malam dan bangun pada
sepertiganya kemudian tidur lagi pada seperenam malam terakhir. Beliau
berpuasa sehari serta berbuka sehari. Selain itu, beliau tidak pernah
lari ketika bertemu musuh.”
Ada pula riwayat lain yang menyebutkan bahwa ia berkata, “Ayahku
menikahkan aku dengan seorang wanita dari keturunan yang baik. Ayah
berniat untuk mengetahui kondisi menantunya, yakni istri anaknya. Lalu
ia bertanya pada wanita itu perihal keadaan suaminya. Setelah ditanya,
istrinya itu berkata, ‘Sebaik-baik lelaki ialah suamiku itu. Ia tidak
pernah menginjak hamparan kita dan tidak pernah memeriksa tabir kita –
maksudnya tidak pernah berkumpul untuk menyetubuhi istrinya – sejak kita
datang padanya.’ Setelah peristiwa itu berjalan lama, maka ayahnya memberitahukan hal
tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau bersabda
kepada ayahnya, ‘Pertemukanlah saya dengan lelaki itu.’ Saya menemui beliau sesudah diadukan oleh ayahku. Beliau bertanya,
‘Bagaimana cara kamu berpuasa?’ Saya menjawab, ‘Saya berpuasa tiap
hari.’ Beliau bertanya, ‘Bagaimana cara kamu mengkhatamkan al-Qur’an?’
Saya menjawab, ‘Setiap malam saya mengkhatamkan sekali.’ Seterusnya orang itu menyebutkan sebagaimana cerita yang sebelumnya.
Ia membacakan kepada salah satu istrinya sepertujuh bacaan yang ia baca.
ia memulainya dari siang hari supaya lebih ringan ketika membacanya
pada waktu malam. Jikalau ia hendak memperkuat dirinya, ia berbuka
selama beberapa hari dan dihitunglah jumlah hari berbukanya itu kemudian
ia berpuasa sebanyak hari berbukanya tersebut. Alasan ia melakukan
demikian, karena ia tidak senang kalau meninggalkan sesuatu sejak ia
berpisah dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Muttafaqun ‘alaih.
HR. Bukhari: 3418 dan Muslim: 1159)
Penjelasan hadist: Hadist ini sebagai dalil bahwa setiap
manusia tidak mesti membebani dirinya dengan puasa dan melaksanakan
shalat, akan tetapi sebaiknya ia mendirikan shalat dan puasa dengan
harapan mendapat kebaikan, dan menghilangkan rasa lelah, sulit, dan
penat. Hadist kesepuluh: Abu Rib’i Hanzhalah bin Arrabi’ Al-Usayyidi Al-Katib, salah seorang
juru tulis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Aku
bertemu dengan Abu Bakar radhiyallahu anhu, kemudian ia berkata,
‘Bagaimanakah keadaanmu, hai Hanzhalah?’ Saya menjawab, ‘Hanzhalah kini
telah munafik.’ Abu Bakar berkata, ‘Subhanallah, apakah yang kau katakan
itu?’ Saya menjawab, ‘Kalau dihadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam kemudian beliau menceritakan tentang surga dan neraka, maka
seakan-akan kami melihat dengan mata kepala kami. Namun, bila kami pergi
dari beliau dan bergaul dengan istri dan anak-anak serta berbagai
urusan maka kami sering lupa.’ Abu Bakar berkata, ‘Demi Allah, kami juga
begitu.’ Kemudian saya dan Abu Bakar pergi menghadap Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam lalu saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, Hanzhalah telah
munafik telah munafik.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bertanya, ‘Mengapa demikian?’ Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, apabila
kami berada dihadapanmu kemudian engkau menceritakan tentang neraka dan
surga, maka seolah-olah kami melihat dengan mata kepala kami. Namun,
bila kami keluar dan bergaul bersama istri dan anak-anak serta mengurusi
berbagai macam persoalan, maka kami sering lupa.’ Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, ‘Demi Dzat yang jiwaku
berada dalam genggaman-Nya, seandainya kamu tetap sebagaimana keadaanmu
dihadapanku dan mengingat-ingatnya niscaya para malaikat akan menjabat
tanganmu di tempat tidurmu dan di jalan. Namun hai Hanzhalah, sesaat dan
sesaat.” Beliau mengulanginya sampai tiga kali.” (HR. Muslim: 12/2750) Penjelasan hadist: Siapapun dan apapun bisa memiliki hak
atas diri Anda, sehingga setiap manusia bisa memberikan hak yang lain
atas dirinya, dalam keadaan tenang, beribadah kepada Allah dengan penuh
ketenangan. Sebab, setiap manusia ketika mendapat kesulitan dan
kesusahan, maka ia akan merasa bosan dan lelah, dan akan meninggalkan
hak yang sangat banyak. Hadist kesebelas: Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata, “tatkala Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam berkhotbah, tiba-tiba ada seorang lelaki berdiri lalu
beliau menanyakannya. Para sahabat menjawab, ‘Dia adalah Abu Israil, ia
bernazar akan berdiri pada waktu panas, tidak akan duduk, dan tidak akan
berteduh serta tidak akan berbicara dan akan berpuasa.’ Kemudian Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Perintahkanlah dia supaya
berbicara, berteduh, duduk, dan perintahkanlah dia supaya menyempurnakan
puasanya’.” (HR. Bukhari: 6704) Penjelasan hadist: Nadzar (janji) ada yang mengandung
ketaatan dan ada yang tidak. Apabila nadzar tersebut dalam ketaatan maka
penuhilah, dan apabila bukan dalam ketaatan maka tinggalkanlah. Ia
harus membayar kifarat yamin (sumpah). Sumber: kitab Riyadhus Shalihin melalui fikri.id. Referensi: www.lampuislam.blogspot.com Facebook page: www.facebook.com/riska.pratama.ardi
Pembicaraan tentang putra dan putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
termasuk pembicaraan yang jarang diangkat. Tidak heran, sebagian umat
Islam tidak mengetahui berapa jumlah putra dan putri beliau atau siapa
saja nama anak-anaknya.
Enam dari tujuh anak Rasulullah terlahir dari ummul mukminin Khadijah binti Khuwailid radhiallahu ‘anha. Rasulullah memuji Khadijah dengan sabdanya,
“Ia telah beriman kepadaku tatkala orang-orang kafir kepadaku, ia
telah membenarkan aku tatkala orang-orang mendustakan aku, ia telah
membantuku dengan hartanya tatkala orang-orang menahan hartanya tidak
membantuku, dan Allah telah menganugerahkan darinya anak-anak tatkala
Allah tidak menganugerahkan kepadaku anak-anak dari wanita-wanita yang
lain.” (HR Ahmad no.24864)
Saat beliau mengucapkan kalimat ini, beliau belum menikah dengan Maria al-Qibtiyah. Anak-anak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Rasulullah memiliki
tiga orang putra; yang pertama Qasim, namanya menjadi kunyah Rasulullah
(Abul Qashim). Qashim dilahirkan sebelum kenabian dan wafat saat berusia
2 tahun. Yang kedua Abdullah, disebut juga ath-Thayyib atau ath-Tahir
karena lahir setelah kenabian. Putra yang ketiga adalah Ibrahim,
dilahirkan di Madinah tahun 8 H dan wafat saat berusia 17 atau 18 bulan.
Adapun putrinya berjumlah 4 orang; Zainab yang menikah dengan Abu
al-Ash bin al-Rabi’, keponakan Rasulullah dari jalur Khadijah, kemudian
Fatimah menikah dengan Ali bin Abi Thalib, lalu Ruqayyah dan Ummu
Qultsum menikah dengan Utsman bin Affan.
Rinciannya adalah sebagai berikut: Putri-putri Rasulullah
Para ulama sepakat bahwa jumlah putri Rasulullah ada 4 orang, semuanya terlahir dari rahim ummul mukminin Khadijah radhiallahu ‘anha. Pertama, putri pertama Rasulullah adalah Zainab binti Rasulullah.
Zainab radhiallahu ‘anha menikah dengan anak bibinya, Halah
binti Khuwailid, yang bernama Abu al-Ash bin al-Rabi’. Pernikahan ini
berlangsung sebelum sang ayah diangkat menjadi rasul. Zainab dan ketiga
saudarinya masuk Islam sebagaimana ibunya Khadijah menerima Islam, akan
tetapi sang suami, Abu al-Ash, tetap dalam agama jahiliyah. Hal ini
menyebabkan Zainab tidak ikut hijrah ke Madinah bersama ayah dan
saudari-saudarinya, karena ikatannya dengan sang suami.
Beberapa lama kemudian, barulah Zainab hijrah dari Mekah ke Madinah
menyelamatkan agamanya dan berjumpa dengan sang ayah tercinta, lalu
menyusullah suaminya, Abu al-Ash. Abu al-Ash pun mengucapkan dua kalimat
syahadat dan memeluk agama mertua dan istrinya. Keluarga kecil yang
bahagia ini pun bersatu kembali dalam Islam dan iman. Tidak lama
kebahagiaan tersebut berlangsung, pada tahun 8 H, Zainab wafat
meninggalkan Abu al-Ash dan putri mereka Umamah.
Setelah itu, terkadang Umamah diasuh oleh kakeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sebagaimana dalam hadis disebutkan beliau menggendong cucunya, Umamah,
ketika shalat, apabila beliau sujud, beliau meletakkan Umamah dari
gendongannya. Kedua, Ruqayyah binti Rasulullah.
Ruqayyah radhiallahu ‘anha dinikahkan oleh Rasulullah dengan sahabat yang mulia Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu.
Keduanya turut serta berhijrah ke Habasyah ketika musyrikin Mekah sudah
sangat keterlaluan dalam menyiksa dan menyakiti orang-orang yang
beriman. Di Habasyah, pasangan yang mulia ini dianugerahi seorang putra
yang dinamai Abdullah.
Ruqayyah dan Utsman juga turut serta dalam hijrah yang kedua dari
Mekah menuju Madinah. Ketika tinggal di Madinah mereka dihadapkan dengan
ujian wafatnya putra tunggal mereka yang sudah berusia 6 tahun.
Tidak lama kemudian, Ruqoyyah juga menderita sakit demam yang tinggi.
Utsman bin Affan setia merawat istrinya dan senantiasa mengawasi
keadaannya. Saat itu bersamaan dengan terjadinya Perang Badar, atas
permintaan Rasulullah untuk mejaga putrinya, Utsman pun tidak bisa turut
serta dalam perang ini. Wafatlah ruqayyah bersamaan dengan kedatangan
Zaid bin Haritsah yang mengabarkan kemenangan umat Islam di Badar. Ketiga, Ummu Kultsum binti Rasulullah.
Setelah Ruqayyah wafat, Rasulullah menikahkan Utsman dengan putrinya yang lain, Ummu Kultsum radhiallahu ‘anha. Oleh karena itulah Utsman dijuluki dzu nurain (pemilik dua cahaya) karena menikahi dua putri Rasulullah, sebuah keistimewaan yang tidak dimiliki sahabat lainnya.
Utsman dan Ummu Kultsum bersama-sama membangun rumah tangga hingga
wafatnya Ummu Kultsum pada bulan Sya’ban tahun 9 H. Keduanya tidak
dianugerahi putra ataupun putri. Ummu Kultsum dimakamkan bersebelahan
dengan saudarinya Ruqayyah radhiallahu ‘anhuma.
Keempat, Fatimah binti Rasulullah.
Fatimah radhiallahu ‘anha adalah putri bungsu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia dilahirkan lima tahun sebelum kenabian. Pada tahun kedua hijriyah, Rasulullah menikahkannya dengan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu.
Pasangan ini dikaruniai putra pertama pada tahun ketiga hijriyah, dan
anak tersebut dinamai Hasan. Kemudian anak kedua lahir pada bulan Rajab
satu tahun berikutnya, dan dinamai Husein. Anak ketiga mereka, Zainab,
dilahirkan pada tahun keempat hijriyah dan dua tahun berselang lahirlah
putri mereka Ummu Kultsum.
Fatimah adalah anak yang paling mirip dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
dari gaya bicara dan gaya berjalannya. Apabila Fatimah datang ke rumah
sang ayah, ayahnya selalu menyambutnya dengan menciumnya dan duduk
bersamanya. Kecintaan Rasulullah terhadap Fatimah tergambar dalam
sabdanya,
فاطمة بضعة منى -جزء مِني- فمن أغضبها أغضبني” رواه البخاري
“Fatimah adalah bagian dariku. Barangsiapa membuatnya marah, maka dia juga telah membuatku marah.” (HR. Bukhari)
Beliau juga bersabda,
أفضل نساء أهل الجنة خديجة بنت خويلد، وفاطمة بنت محمد، ومريم بنت عمران، وآسية بنت مُزاحمٍ امرأة فرعون” رواه الإمام أحمد
“Sebaik-baik wanita penduduk surga adalah Khadijah binti Khuwailid,
Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, Asiah bin Muzahim, istri
Firaun.” (HR. Ahmad).
Satu-satunya anak Rasulullah yang hidup saat beliau wafat adalah
Fatimah, kemudian ia pula keluarga Rasulullah yang pertama yang menyusul
beliau. Fatimah radhiallahu ‘anha wafat enam bulan setelah
sang ayah tercinta wafat meninggalkan dunia. Ia wafat pada 2 Ramadhan
tahun 11 H, dan dimakamkan di Baqi’. Putra-putra Rasulullah Pertama, al-Qashim bin Rasulullah. Rasulullah
berkunyah dengan namanya, beliau disebut Abu al-Qashim (bapaknya
Qashim). Qashim lahir sebelum masa kenabian dan wafat saat usia dua
tahun. Kedua, Abdullah bin Rasulullah. Abdullah dinamai juga dengan ath-Thayyib atau ath-Thahir. Ia dilahirkan pada masa kenabian. Ketiga, Ibrahim bin Rasulullah.
Ibrahim dilahirkan pada tahun 8 H di Kota Madinah. Dia adalah anak terakhir dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dilahirkan dari rahim Maria al-Qibthiyah radhiallahu ‘anha.
Maria adalah seorang budak yang diberikan Muqauqis, penguasa Mesir,
kepada Rasulullah. Lalu Maria mengucapkan syahadat dan dinikahi oleh
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Usia Ibrahim tidak panjang, ia wafat pada tahun 10 H saat berusia 17
atau 18 bulan. Rasulullah sangat bersedih dengan kepergian putra
kecilnya yang menjadi penyejuk hatinya ini. Ketika Ibrahim wafat,
Rasulullah bersabda,
“إن العين تدمع، والقلب يحزن، ولا نقول إلا ما يُرْضِى ربنا، وإنا بفراقك يا إبراهيم لمحزونون” رواه البخاري
“Sesungguhnya mata ini menitikkan air mata dan hati ini bersedih,
namun kami tidak mengatakan sesuatu yang tidak diridhai Rab kami.
Sesungguhnya kami bersedih dengan kepergianmu wahai Ibrahim.” (HR.
Bukhari).
Kalau kita perhatikan perjalanan hidup Rasulullah bersama
anak-anaknya, niscaya kita dapati pelajaran dan hikmah yang banyak.
Allah Ta’ala mengaruniakan beliau putra dan putri yang
merupakan tanda kesempurnaan beliau sebagai manusia. Namun Allah juga
mencoba beliau dengan mengambil satu per satu anaknya sebagaiman dahulu
mengambil satu per satu orang tuanya tatkala beliau membutuhkan mereka;
ayah, ibu, kakek, dan pamannya. Hanya anaknya Fatimah yang wafat setelah
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Allah juga tidak memperpanjang usia putra-putra beliau, salah satu
hikmahnya adalah agar orang-orang tidak mengkultuskan putra-putranya
atau mengangkatnya menjadi Nabi setelah beliau. Bisa kita lihat, cucu
beliau Hasan dan Husein saja sudah membuat orang-orang yang lemah
terfitnah. Mereka mengagungkan kedua cucu beliau melebih yang
sepantasnya, bagaimana kiranya kalau putra-putra beliau dipanjangkan
usianya dan memiliki keturunan? Tentu akan menimbulkan fitnah yang lebih
besar.
Hikmah dari wafatnya putra dan putri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sebagai teladan bagi orang-orang yang kehilangan salah satu putra atau putri mereka. saat kehilangan anaknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabar dan tidak mengucapkan perkataan yang tidak diridhai Allah.
Ketika seseorang kehilangan salah satu anaknya, maka Rasulullah telah
kehilangan hampir semua anaknya.
Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya..
Sumber: Islamweb.net Referensi: www.KisahMuslim.com Facebook Page: www.facebook.com/riska.pratama.ardi
-Tulisan berikut ini
diterjemahkan dari tulisan dan sebagian ceramah Syaikh Utsman al-Khomis,
seorang ulama yang terkenal sebagai pakar dalam pembahasan Syiah-.
Pembahasan tentang terbunuhnya cucu Rasulullalllah, asy-syahid Husein bin Ali ‘alaihissalam
telah banyak ditulis, namun beberapa orang ikhwan meminta saya agar
menulis sebuah kisah shahih yang benar-benar bersumber dari para ahli
sejarah. Maka saya pun menulis ringkasan kisah tersebut sebagai berikut
–sebelumnya Syaikh telah menulis secara rinci tentang kisah terbunuhnya
Husein di buku beliau Huqbah min at-Tarikh-.
Pada tahun 60 H, ketika Muawiyah bin Abu Sufyan wafat, penduduk Irak
mendengar kabar bahwa Husein bin Ali belum berbaiat kepada Yazid bin
Muawiyah, maka orang-orang Irak mengirimkan utusan kepada Husein yang
membawakan baiat mereka secara tertulis kepadanya. Penduduk Irak tidak
ingin kalau Yazid bin Muawiyah yang menjadi khalifah, bahkan mereka
tidak menginginkan Muawiyah, Utsman, Umar, dan Abu Bakar menjadi
khalifah, yang mereka inginkan adalah Ali dan anak keturunannya menjadi
pemimpin umat Islam. Melalui utusan tersebut sampailah 500 pucuk surat
lebih yang menyatakan akan membaiat Husein sebagai khalifah.
Setelah surat itu sampai di Mekah, Husein tidak terburu-buru
membenarkan isi surat itu. Ia mengirimkan sepupunya, Muslim bin Aqil,
untuk meneliti kebenaran kabar baiat ini. Sesampainya Muslim di Kufah,
ia menyaksikan banyak orang yang sangat menginginkan Husein menjadi
khalifah. Lalu mereka membaiat Husein melalui perantara Muslim bin Aqil.
Baiat itu terjadi di kediaman Hani’ bin Urwah.
Kabar ini akhirnya sampai ke telinga Yazid bin Muawiyah di ibu kota
kekhalifahan, Syam, lalu ia mengutus Ubaidullah bin Ziyad menuju Kufah
untuk mencegah Husein masuk ke Irak dan meredam pemberontakan penduduk
Kufah terhadap otoritas kekhalifahan. Saat Ubaidullah bin Ziyad tiba di
Kufah, masalah ini sudah sangat memanas. Ia terus menanyakan perihal ini
hingga akhirnya ia mengetahui bahwa kediaman Hani’ bin Urwah adalah
sebagai tempat berlangsungnya pembaiatan dan di situ juga Muslim bin
Aqil tinggal.
Ubaidullah menemui Hani’ bin Urwah dan menanyakannya tentang gejolak
di Kufah. Ubaidullah ingin mendengar sendiri penjelasan langsung dari
Hani’ bin Urwah walaupun sebenarnya ia sudah tahu tentang segala kabar
yang beredar. Dengan berani dan penuh tanggung jawab terhadap keluarga
Nabi (Muslim bin Aqil adalah keponakan Nabi), Hani’ bin Urwah
mengatakan, “Demi Allah, sekiranya (Muslim bin Aqil) bersembunyi di
kedua telapak kakiku ini, aku tidak akan memberitahukannya kepadamu!”
Ubaidullah lantas memukulnya dan memerintahkan agar ia ditahan.
Mendengar kabar bahwa Ubaidullah memenjarakan Hani’ bin Urwah, Muslim
bin Aqil bersama 4000 orang yang membaiatnya mengepung istana
Ubaidullah bin Ziyad. Pengepungan itu terjadi di siang hari.
Ubaidullah bin Ziayd merespon ancaman Muslim dengan mengatakan akan
mendatangkan sejumlah pasukan dari Syam. Ternyata gertakan Ubaidullah
membuat takut Syiah (pembela) Husein ini. Mereka pun berkhianat dan
berlari meninggalkan Muslim bin Aqil hingga tersisa 30 orang saja yang
bersama Muslim bin Aqil, dan belumlah matahari terbenam hanya tersisa
Muslim bin Aqil seorang diri.
Muslim pun ditangkap dan Ubaidullah memerintahkan agar ia dibunuh.
Sebelum dieksekusi, Muslim meminta izin untuk mengirim surat kepada
Husein, keinginan terakhirnya dikabulkan oleh Ubaidullah bin Ziyad. Isi
surat Muslim kepada Husein adalah “Pergilah, pulanglah kepada
keluargamu! Jangan engkau tertipu oleh penduduk Kufah. Sesungguhnya
penduduk Kufah telah berkhianat kepadamu dan juga kepadaku. Orang-orang
pendusta itu tidak memiliki pandangan (untuk mempertimbangkan masalah)”.
Muslim bin Aqil pun dibunuh, padahal saat itu adalah hari Arafah.
Husein berangkat dari Mekah menuju Kufah di hari tarwiyah. Banyak
para sahabat Nabi menasihatinya agar tidak pergi ke Kufah. Di antara
yang menasihatinya adalah Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar,
Abdullah bin Zubair, Abu Said al-Khudri, Abdullah bin Amr, saudara tiri
Husein, Muhammad al-Hanafiyah dll.
Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Sesungguhnya
aku adalah seorang penasihat untukmu, dan aku sangat menyayangimu.
Telah sampai berita bahwa orang-orang yang mengaku sebagai Syiahmu
(pembelamu) di Kufah menulis surat kepadamu. Mereka mengajakmu untuk
bergabung bersama mereka, janganlah engkau pergi bergabung bersama
mereka karena aku mendengar ayahmu –Ali bin Abi Thalib- mengatakan
tentang penduduk Kufah, ‘Demi Allah, aku bosan dan benci kepada mereka,
demikian juga mereka bosan dan benci kepadaku. Mereka tidak memiliki
sikap memenuhi janji sedikit pun. Niat dan kesungguhan mereka tidak ada
dalam suatu permasalahan (mudah berubah pen.). Mereka juga bukan orang-orang yang sabar ketika menghadapi pedang (penakut pen.)’.
Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Aku hendak menyampaikan kepadamu beberapa kalimat. Sesungguhnya Jibril datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kemudian memberikan dua pilihan kepada beluai antara dunia dan akhirat,
maka beliau memilih akhirat dan tidak mengiginkan dunia. Engkau adalah
darah dagingnya, demi Allah tidaklah Allah memberikan atau menghindarkan
kalian (ahlul bait) dari suatu hal, kecuali hal itu adalah yang
terbaik untuk kalian”. Husein tetap enggan membatalkan keberangkatannya.
Abdullah bin Umar pun menangis, lalu mengatakan, “Aku titipkan engkau
kepada Allah dari pembunuhan”.
Setelah meneruskan keberangkatannya, datanglah kabar kepada Husein
tentang tewasnya Muslim bin Aqil. Husein pun sadar bahwa keputusannya ke
Irak keliru, dan ia hendak pulang menuju Mekah atau Madinah, namun
anak-anak Muslim mengatakan, “Janganlah engkau pulang, sampai kita
menuntut hukum atas terbunuhnya ayah kami”. Karena menghormati Muslim
dan berempati terhadap anak-anaknya, Husein akhirnya tetap berangkat
menuju Kufah dengan tujuan menuntut hukuman bagi pembunuh Muslim.
Bersamaan dengan itu Ubaidullah bin Ziyad telah mengutus al-Hurru bin
Yazid at-Tamimi dengan membawa 1000 pasukan untuk menghadang Husein
agar tidak memasuki Kufah. Bertemulah al-Hurru dengan Husein di
Qadisiyah, ia mencoba menghalangi Husein agar tidak masuk ke Kufah.
Husein mengatakan, “Celakalah ibumu, menjauhlah dariku”. Al-Hurru
menjawab, “Demi Allah, kalau saja yang mengatakan itu adalah orang
selainmu akan aku balas dengan menghinanya dan menghina ibunya, tapi apa
yang akan aku katakan kepadamu, ibumu adalah wanita yang paling mulia, radhiallahu ‘anha”.
Saat Husein menginjakkan kakinya di daerah Karbala, tibalah 4000
pasukan lainnya yang dikirim oleh Ubaidullah bin Ziyad dengan pimpinan
pasukan Umar bin Saad. Husein mengatakan, “Apa nama tempat ini?”
Orang-orang menjawab, “Ini adalah daerah Karbala.” Kemudian Husein
menanggapi, “Karbun (musibah) dan balaa’ (bencana).”
Melihat pasukan dalam jumlah yang sangat besar, Husein radhiallahu ‘anhu
menyadari tidak ada peluang baginya. Lalu ia mengatakan, “Aku ada dua
alternatif pilihan, (1) kalian mengawal (menjamin keamananku) pulang
atau (2) kalian biarkan aku pergi menghadap Yazid di Syam.
Engkau pergi menghadap Yazid, tapi sebelumnya aku akan menghadap
Ubaidullah bin Ziyad terlebih dahulu kata Umar bin Saad. Ternyata
Ubadiullah menolak jika Husein pergi menghadap Yazid, ia menginginkan
agar Husein ditawan menghadapnya. Mendengar hal itu Husein menolak untuk
menjadi tawanan.
Terjadilah peperangan yang sangat tidak imbang antara 73 orang di
pihak Husein berhadapan dengan 5000 pasukan Irak. Kemudian 30 orang
pasukan Irak dipimpin oleh al-Hurru bin Yazid at-Tamimi membelot dan
bergabung dengan Husein. Peperangan yang tidak imbang itu menewaskan
semua orang yang mendukung Husein, hingga tersisa Husein seorang diri.
Orang-orang Kufah merasa takut dan segan untuk membunuhnya, masih
tersisa sedikit rasa hormat mereka kepada darah keluarga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Namun ada seorang laki-laki yang bernama Amr bin Dzi al-Jausyan –semoga
Allah menghinakannya- melemparkan panah lalu mengenai Husein, Husein
pun terjatuh lalu orang-orang mengeroyoknya, Husein akhirnya syahid,
semoga Allah meridhainya. Ada yang mengatakan Amr bin Dzi al-Jausyan-lah
yang memotong kepala Husein sedangkan dalam riwayat lain, orang yang
menggorok kepala Husein adalah Sinan bin Anas, Allahu a’lam. Yang
perlu pembaca ketauhi Ubaidullah bin Ziyad, Amr bin Dzi al-Jausyan, dan
Sinan bin Anas adalah pembela Ali (Syiah nya Ali) di Perang Shiffin.
Ini adalah sebuah kisah pilu yang sangat menyedihkan, celaka dan
terhinalah orang-orang yang turut serta dalam pembunuhan Husein dan ahlul bait
yang bersamanya. Bagi mereka kemurkaan dari Allah. Semoga Allah
merahmati dan meridhai Husein dan orang-orang yang tewas bersamanya. Di
antara ahlul bait yang terbunuh bersama Husein adalah:
– Anak-anak Ali bin Abi Thalib: Abu Bakar, Muhammad, Utsman, Ja’far, dan Abbas.
– Anak-anak Husein bin Ali: Ali al-Akbar dan Abdullah.
– Anak-anak Hasan bin Ali: Abu Bakar, Abdullah, Qosim.
– Anak-anak Aqil bin Abi Thalib: Ja’far, Abdullah, Abdurrahman, dan Abdullah bin Muslim bin Aqil.
– Anak-anak dari Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib: ‘Aun dan Muhammad.
Dari Ummu Salamah bawasanya Jibril datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
“…Jibril mengatakan, “Apakah engkau mencintai Husein wahai Muhammad?”
Nabi menjawab, “Tentu” Jibril melanjutkan, “Sesungguhnya umatmu akan
membunuhnya. Kalau engkau mau, akan aku tunjukkan tempat dimana ia akan
terbunuh.” Kemudian Nabi diperlihatkan tempat tersebut, sebuah tempat
yang dinamakan Karbala. (HR. Ahmad dalam Fadhailu ash-Shahabah,
ia mengatakan hadis ini hasan). Adapun berita-berita bahwa langit
menurunkan hujan darah, dinding-dinding berdarah, batu yang diangkat
lalu di bawahnya terdapat darah, dll. karena sedih dengan tewasnya
Husein, berita-berita ini tidak bersumber dari rujukan yang shahih. Benarkah Sikap Husein ‘alaihissalam Pergi ke Irak?
Tidak ada kemaslahatan dalam hal dunia maupun akhirat dari sikap Husein ‘alaihissalam
yang keluar menuju Irak. Oleh karena itu, banyak sahabat Nabi yang
berusaha mencegahnya dan melarangnya berangkat ke Irak. Husein pun
menyadari hal itu dan ia sempat hendak pulang, namun anak-anak Muslim
bin Aqil memintanya mengambil sikap atas terbunuhnya ayah mereka. Husein
dengan penuh tanggung jawab tidak lari dari permasalahan ini. Dari
peristiwa ini tampaklah kezaliman dan kesombongan orang-orang Kufah
(Syiah-nya Husein) terhadap ahlul bait Nabi ‘alaihumu ash-shalatu wa salam.
Sekiranya Husein ‘alaihissalam menuruti nasihat para sahabat
tentu tidak terjadi peristiwa ini, akan tetapi Allah telah menetapkan
takdirnya. Terbunuhnya Husein ini tentu saja tidak sebesar peristiwa
terbunuhnya para Nabi, semisal dipenggalnya kepala Nabi Yahya oleh
seorang raja, karena calon istri raja tersebut meminta kepala Nabi Yahya
bin Zakariya sebagai mahar pernikahan. Demikian juga dibunuhnya Nabi
Zakariya oleh Bani Israil, dan nabi-nabi lainnya. Demikian juga dengan
dibunuhnya Umar dan Utsman. Semua kejadian itu lebih besar dibanding
dengan peristiwa dibunuhnya Husein ‘alaihissalam. Bagaimana Sikap Kita Terhadap Peristiwa Karbala?
Tidak diperbolehkan bagi umat Islam, apabila disebutkan tentang
kematian Husein, maka ia meratap dengan memukul-mukul pipi atau
merobek-robek pakaian, atau bentuk ratapan yang semisalnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukan termasuk golongan kami, orang-orang yang menampar-nampar pipi dan merobek saku bajunya.” (HR. Bukhari).
Seorang muslim yang baik, apabila mendengar musibah ini hendaknya ia
mengatakan sebuah kalimat yang Allah tuntunkan dalam firman-Nya,
“Orang-orang yang apabila mereka ditimpa musibah, mereka mengtakan
sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami akan
kembali.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Tidak pernah diriwayatkan bahwa Ali bin Husein atau putranya Muhammad, atau Ja’far ash-Shadiq atau Musa bin Ja’far radhiallahu ‘anhum, para imam dari kalangan ahlul bait
maupun selain mereka pernah memukul-mukul pipi mereka, atau
merobek-robek pakaian atau berteriak-teriak, dalam rangka meratapi
kematian Husein. Tirulah mereka kalau engkau tidak bisa serupa dengan
mereka, karena meniru orang-orang yang mulia itu adalah kemuliaan.
Tidak seperti orang-orang yang mengaku Syiah (pembela) Husein, Syiahnya ahlul bait Nabi
pada hari ini, mereka merusak anggota tubuh, memukul kepala dan tubuh
dengan pedang dan rantai, mereka katakan kami bangga menyucurkan darah
bersama Husein. Demi Allah, sekiranya mereka berada pada hari dimana
Husein terbunuh mereka akan turut serta dalam kelompok pembunuh Husein
karena mereka adalah orang-orang yang selalu berhianat. Posisi Yazid Dalam Peristiwa Ini
Dalm permasalahan ini, Yazid sama sekali tidak turut campur. Aku
mengakatakan hal ini bukan untuk membela Yazid tetapi hanya untuk
mendudukan permasalahan yang sebenarnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
mengatakan, “Yazid bin Muawiyah tidak memerintahkan untuk membunuh
Husein. Ini adalah kesepatakan para ahli sejarah. Yazid hanya
memerintahkan Ubaidullah bin Ziyad agar mencegah Husein untuk memasuki
wilayah Irak. Ketika Yazid mendengar tewasnya Husein, Yazid pun terkejut
dan menangis. Setelah itu Yazid memuliakan keluarga Husein dan
mengamankan anggota keluarga yang tersisa sampai ke daerah mereka.
Adapun riwayat yang menyatakan bahwa Yazid merendahkan
perempuan-perempuan ahlul bait lalu membawa mereka ke Syam, ini
adalah riwayat yang batil. Bani Umayyah (keluarga Yazid) selalu
memuliakan Bani Hasyim (keluarga Rasulullah).
Sebelumnya Yazid telah mengirim surat kepada Husein ketika di Mekah,
ternyata saat surat itu tiba Husein telah berangkat menuju Irak. Surat
itu berisikan syair dari Yazid untuk melunakkan hati Husein agar tidak
berangkat ke Irak dan Yazid juga menyatakan kedekatan kekerabatan
mereka. Bibi Yazid, Ummu Habibah adalah istri Rasulullah dan kakek
(Jawa: mbah buyut) Yazid dan Husein adalah saudara kembar. Kepala Husein
Tidak ada riwayat yang shahih yang menyatakan bahwa kepala Husein
dikirim kepada Yazid di Syam. Husein tewas di Karbala dan kepalanya
didatangkan kepada Ubaidullah bin Ziyad. Tidak diketahui dimana makamnya
dan makam kepalanya. Wallahu Ta’ala a’la wa a’lam, wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in.
Sumber: almanhaj.net
Referensi: www.KisahMuslim.com
Facebook Page: www.facebook.com/riska.pratama.ardi